Makna Taqarrub ilaa Allah ~ Jadwal Pengajian, Info Pengajian Terbaru, Ahlussunah Wal Jama'ah

Sabtu, 17 Mei 2014

Makna Taqarrub ilaa Allah


Taqarrub ilaa Allah ialah mendekatkan diri kepada Allah dalam artian meningkatkan sifat-sifat kedudukan sebagai hamba-Nya, sadar bahwa manusia itu ada yang menciptakan yaitu Allah yang menciptakan.

Ketika anak sudah baligh, orang tua wajib mendudukkan anak dan menyuruh anak untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. “Wahai anakku, sekarang kamu sudah baligh, usiamu sudah 15 tahun, mulai sekarang kamu harus bertanggung jawab sendiri atas semua perbuatanmu. Sekarang ucapkan dua kalimat syahadat dengan penuh kesadaran, penghayatan, dengan mengetahui makna syahadat, jangan sampai Islam kamu hanya Islam keturunan.”

Lebih baik lagi jika itu dilakukan setelah anak dikhitan atau sebelum baligh, sehingga anak benar-benar menjadi seorang muslim dan mukmin, bukan sekedar Islam keturunan. Dan jika itu dilakukan, maka pahala yang besar bagi orang tua karena telah mengislamkan anak.

Kemudian setelah itu anak diajari tentang tauhid dasar, terutama aqaid seket (aqaid lima puluh) tentang sifat wajib Allah dan Rasul-Nya, sifat mustahil Allah dan Rasul-Nya, dan sifat jaiz Allah dan Rasul-Nya. Ilmu tauhid dasar dulu, jangan yang tinggi-tinggi. Setelah diajari tentang ilmu tauhid, kenalkan  pada anak tentang Allah dan Rasul-Nya, dan Ridla pada Allah.
Mengapa kok ketika bayi lahir langsung diadzani? Itu sebagai pengenalan secara dini tentang Allah dan Rasulullah SAW sejak dini, jadi diperdengarkan dulu nama Allah dan Rasulullah SAW sebelum anak mendengar ma’siat. Jadi, kenalkan sedini mungkin Allah dan Rasulullah SAW sebelum bayi atau anak mendengar ma’siat.

Kenalkan pada anak bahwa Rasulullah SAW itu bukan manusia biasa. Nabi Muhammad SAW itu manusia luar biasa. Keringat Rasul SAW itu baunya tidak kecut seperti kita ini, sifat Rasulullah SAW itu mulia tidak seperti kita-kita ini, sampai-sampai, saking mulianya Rasulullah SAW, Allah sendiri yang menjadi saksi betapa mulianya akhlaq Rasulullah SAW di dalam Al-Qur’an dalam ayat laqaq jaa-akum rasuulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa anittum hariishun ‘alaikum bil mu’miniina ra-uufun rahiim, ayat itu merupakan kesaksian atas sifat Rasulullah SAW.
Sehingga kita tidak seenaknya saja mengucapkan inna akramakum ‘indallaahi atqaakum, memangnya kamu udah merasa mulia kok berani-beraninya mengucapkan itu untuk menganggap kamu seperti Nabi SAW atau manusia yang sama seperti ahlu bait Nabi SAW. Padahal inna akramakum ‘indallahi atqaakum itu merupakan kalimat khabar dari Allah untuk mempertegas subhaanalladzii asraa bi’abdihii. Maksudnya? Kalimat ‘abdihii mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad SAAW merupakan yang paling sempurna maqam, tingkat ‘ubudiyyahnya. Sehingga stempel inna akramakum ‘indallaahi atqaakum itu hanya milik Nabi Muhammad SAAW.
Kenalkan itu pada anak. Tanpa mengenal Nabi Muhammad SAW kita tidak mungkin mengenal Allah, tidak mungkin mengenal Al-Quran, tidak mungkin mengenal halal dan haram.
Diantara akibat jika kita jauh dari ulama adalah diangkatnya barakah dari ma’iisyah, perdagangan kita. Lha jauh dari ulama saja akibatnya seperti itu, apalagi jauh dari Nabi Muhammad SAW?
Sehingga tingkatkan, kuatkan mahabbah, kecintaan kita kepada Nabi SAW. Apabila mahabbah semakin kuat, iman pun semakin kuat. Tanda cinta kepada Nabi Muhammad SAAW adalah cinta kepada ulama dan auliya, cinta kepada para sahabat, cinta ahlul bait, dan cinta kepada sesama muslim.

Alhamdulillah kemarin kita telah melaksanakan pemilu legislatif dengan aman. Sebentar lagi kita akan menghadapi pemilihan presiden. Jangan mencela calon-calon presiden. Beliau-beliau ini adalah aset negara ini untuk membangun negara ini. Pihak-pihak yang tidak suka kita maju bertepuk tangan melihat kita berpecah belah, saling mencela. Jangan membuka aib orang lain. Kita semua adalah saudara. Saudara seiman seagama, dan tentu saja kita saudara sebangsa setanah air.
Lho kan banyak pejabat yang korupsi, bib? Sekarang saya tanya balik. Lebih banyak mana antara mereka yang korupsi dan yang tidak korupsi? Yang korupsi itu tak lebih satu persen dari jumlah penduduk negara ini, tapi kok dipukul rata semua. Tentu kita mengapresiasi pemerintah yang menangkap orang-orang yang korupsi, tapi sekali lagi, yang korupsi tidak lebih banyak dari jumlah penduduk negeri ini. Bangsa Indonesia ini masih banyak orang yang baik-baik.
Taqarrub ilaa Allah itu menenangkan hati kita karena kita sadar kita sebagai hamba sehingga kita mewujudkan “wa man yattaqillaaha yaj’al lahuu makhrajaa wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib”. Wa man yattaqillaaha merupakan kewajiban kita sebagai hamba, sedangkan lahuu makhrajaa wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib merupakan hak Allah. Artinya apa? Kita beribadah kepada Allah karena perintah Allah, kewajiban kita, bukan karena menuntut Allah menepati janji-janji-Nya, meskipun Allah Maha Menepati Janji yang akan menepati janji-janji-Nya pada hamba-hamba-Nya.
Sehingga, Taqarrub ilaa Allah itu tidak mengecewakan Nabi Muhammad SAAW, para shahabat, para ulama dan auliya, para guru, orang tua, dan para pahlawan yang telah berjuang untuk Negara ini. Apakah kita sanggup untuk tidak mengecewakan beliau-beliau?
Wallaahu a’lam
  • Disarikan dari pengajian Jumat Kliwon Mawlana Habib Luthfi bin Yahya di Gedung Kanzus Shalawat Kota Pekalongan pada 16 Mei 2014/ 16 Rajab 1435.
  • Apabila ada kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan dhawuh beliau, mohon untuk dibenarkan atau diluruskan.
 Penulis : Syukron Ma'mun, S.Pd. (Ketua MATAN Cirebon 2014-2017)

0 komentar:

Posting Komentar