April 2014 ~ Jadwal Pengajian, Info Pengajian Terbaru, Ahlussunah Wal Jama'ah

Jadwal pengajian Habib Luthfi, Senin 2 Juni 2014

• Hari: Senin 2 Juni 2014 • Jam: 19.30 WIB-Selesai • Tempat: Lapangan STKIP Al-Mujahidin Cikarang Jl. Raya Pilar Sukatani Karangbahagia Bekasi.

Jadwal Habib Syech : Grobogan Bersholawat 27 Mei 2014

Selasa, 27 Mei 2014 STADION KRIDA BAKTI PURWODADI GROBOGAN

Al Habib Luthfi bin Ali bin Yahya

Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman

Jadwal Habib Syech : Lirboyo bersholawat 24 Mei 2014

Sabtu, 24 Mei 2014 Bertempat di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur

1 Syawal 1433 H

Sahabat adalah mereka yang mungkin tidak bersamamu ketika kau sukses, tetapi yakinlah mereka ada bersamamu saat kau terjatuh

Rabu, 30 April 2014

Amalan Bulan Rajab

Habib Umar bin Hafidz


Bulan rajab, merupakan salah satu bulan yang istimewa bagi umat islam, yang memiliki tradisi Ahlussunah Wal Jama'ah. Banyak sekali amalan yang bisa kita niatkan, dibulan ini. Selain dikenal sebagai salah satu bulan yang bisa mendatangkan barokah dan mendekatkan dengan yang menciptakan hidup, bulan ini dikenal sebagai bulan "latihan" sebelum ramadhan datang.

Seorang muslim hendaknya berusaha mendapatkan keutamaan bulan yang mulia ini dengan beberapa hal, di antara yang paling penting :
1. Memperbanyak istighfar dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.
2. Niat yang benar menghadap Allah swt dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan maksiat.
3. Memerhatikan di setiap keadaannya dengan memperbaiki dan menjalankannya atas manhaj mengikuti Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam.
4. Memerhatikan dirinya dalam melaksanaan kewajiban, bagaimana cara pelaksanaan, sunnah, rowatib dan fokusnya hati di dalamnya.
5. Berusaha selalu sholat berjamaah di shof depan dan bertakbirotul ihrom setelah imam.
6. Memerhatikan dirinya dalam membaca al-qur'an, bagian dari bacaan serta mentadabburinya dan berusaha mengamalkan isinya.
7. Melazimi dzikir di waktu pagi, sore, setelah sholat dan di setiap keadaan yang berbeda.
8. Memerhatikan cara bersosialisasinya bersama keluarga, kerabat, teman, tetangga dan semua orang.
9. Puasa yang mudah baginya di bulan ini, khususnya hari senin, kamis dan ayyamul bidh ( tgl 13, 14 dan 15 setiap bulan hijriyyah ).
10. Bershodaqoh, perhatian kepada orang-orang faqir miskin dan berbuat baik kepada mereka.
11. Menggunakan malam-malamnya dengan ibadah khususunya menjelang fajar, semestinya di seperti bulan ini kita memiliki hal yang baik menjelang fajar agar masuk di golongan yang di puji Allah swt dalam al-qur'an dengan beristighfar menjelang fajar.

Kami memohon kepada Allah swt agar memberikan pemberian yang sempurna kepada kita di malam-malam dan bulan ini, dan menjadikan kita termasuk yang di terima dan beruntung di dunia dan akherat. Yaa Allah berkahi kami di rojab, sya'ban dan sampaikan kami pada bulan romadlon serta bantulah kami atas puasa dan ibadah.

Muslim Indonesia Semakin Kekurangan Teladan

Muslim Indonesia Semakin Kekurangan Teladan


Malam ini kita membacakan tahlil dan mendoakan almarhum KH. Zainal Abidin Munawwir. Kita itu sok-sok-an. Model seperti saya dan panjenengan gayanya mendoakan Kiai Zainal. Ya, kita semua sesungguhnya hanya mengharap barokah dari beliau.

Meski saya bukan wali, tapi saya meyakini Kiai Zainal itu adalah wali. Karena seperti terdapat dalam al-Quran, ciri wali itu tidak punya rasa takut dan tidak punya susah. Lha saya belum pernah tahu Kiai Zainal itu punya rasa takut dan susah.

أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus ayat 62).

Sebenarnya panjenengan itu juga bisa jadi wali, wong panjenengan sudah memiliki salah satu syaratnya. Padahal syarat menjadi wali cuma dua. Panjenengan semua sudah punya satu, yaitu mengakui bahwa Gusti Pangeran itu hanyalah Allah Ta’ala.

إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ، ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. al-Ahqaf ayat 13).

Jadi syarat yang pertama, menyatakan bahwa Tuhannya adalah Allah (قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ), yang kedua adalah istiqomah (ثُمَّ اسْتَقَامُوْا). Untuk jadi wali seperti Kiai Zainal, panjenengan kurang satu syarat saja, yaitu istiqomah. Syarat istiqomah ini memang yang paling sulit.

Panjenengan menyaksikan sendiri bagaimana Kiai Zainal dalam keadaan gerah masih berangkat ngimami di masjid dan tetap memikirkan santri. Sementara banyak orang yang mau sholat, tapi jarang yang sholatnya bisa istiqomah; orang yang mau mengajar juga banyak, tapi yang mengajar dengan istiqomah itu jarang; banyak yang bisa memperhatikan anaknya orang, tapi yang memperhatikan anak orang secara terus-menerus itu sedikit sekali. Istiqomah itu yang berat.

Saya mendengar ada gunung meletus tidak begitu kaget, meskipun abunya sampai Jogja. Tapi saya kaget mendengar kiai-kiai wafat, Kiai Sahal Mahfudz kemudian menyusul Kiai Zainal. Gusti Allah itu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw., bila mengambil ilmuNya, tidak dengan cara mencabut ilmu itu dari dada para ulama (إن الله لا يَنْتَزِعُ العلم انتزاعا من صدور العلماء), akan tetapi (بقبض العلماء) Allah mengambil ilmuNya dengan cara mewafatkan ulama.

Kiai Munawwir dipundut nyawanya, sekaligus diambil ilmunya; Kiai Abdullah dipundut beserta ilmunya; Kiai Abdul Qodir dipundut beserta ilmunya; Kiai Ali Maksum dipundut beserta ilmunya; Kiai Warsun dipundut beserta ilmunya; Kiai Zainal dipundut beserta ilmunya.

حتى إذا لم يَبْقَ عالم، وفي رواية: حتى إذا لم يُبْقِ عالما، اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا – أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Kalau kiai-kiai sudah diambil, orang-orang bingung harus bertanya kepada siapa. Mereka kemudian bertanya kepada orang sembarangan: pokoknya asal orang pakai sorban; asal jenggotan; asal jubahan; dipanggil kiai; dipanggil ustadz; pasti akan ditanya (فأفتوا بغير علم). Maka mereka menjawab tanpa ilmu, (فضلوا وأضلوا) jadinya mereka sesat dan menyesatkan orang lain.

Ini semua sekarang sudah kelihatan tanda-tandanya: banyak mufti jadi-jadian, yang ditanya apa saja bisa menjawab. Padahal itu tandanya geblek, bukan tanda orang yang alim. Tandanya orang bodoh itu adalah bila ditanya apa saja, bisa menjawab.

Ditanya: “Bagaimana hukumnya ayam yang ketabrak mobil, Ustadz?” “Itu ayamnya masih hangat apa tidak?” “Masih agak hangat, Ustadz.” “Kalau masih agak hangat berarti agak halal…” Sampeyan kalau mau tahu silakan buka televisi, ukuran jawabannya asal bisa dinalar saja.

Ada juga dikatakan: (موت العالِم موت العالَم). Pada masa ini yang sulit itu adalah mencari teladan. Islam itu kekurangan contoh. Oleh sebab itu wajah Islam kelihatan jelek, karena kurang contoh. Yang dijadikan contoh yang jelek-jelek. Sampeyan lihat Youtube, ada bocah edan pakai jubah, menginjak kepala, yang begini ini yang merusak. Kalau ditanya: bagaimana baiknya, maka jawabnya: baiknya mandeg saja, gak usah lagi. Ini merusak Islam. Orang Islam saja melihatnya jijik dan muak, apalagi orang lain.

Lha di (Krapyak) sini ini sudah banyak contoh. Ada Kiai Abdul Qodir, ada Kiai Ali. Kalau mau yang agak ketat, ada Kiai Zainal. Kalau mau contoh yang gampangan, ada Kiai Ali. Ada semua contohnya. Orang itu macam-macam. Ada yang maunya ketat, ada yang maunya enteng. Dan yang seperti ini sudah ada sejak zaman Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Santrinya macam-macam, ada yang seperti Abu Bakar Ra., ada yang seperti Umar Ra.

Sahabat Umar Ra. itu contoh sahabat sangat berhati-hati. Hingga terhadap teman dan saudaranya sendiri saja keras, hingga sahabat Khalid bin Walid Ra. dipecat dari jabatannya sebagai Komandan Tentara. Sahabat Abu Bakar Ra. lain, lembut. Pendekatannya berbeda. Tapi semua itu didasarkan pada rahmat dan kasih sayang. Itu yang kemudian dilanjutkan dari sejak sahabat, tabi’in dan para ulama hingga sampai kepada Mbah Hasyim Asy’ari.

Beliau punya dua orang anak buah yang berbeda: Mbah Bisri Syansuri yang ketat dan Mbah Abdul Wahab Hasbullah yang gampangan. Warga Nahdliyyin yang sedemikian banyak akhirnya punya pilihan: yang belum bisa ya ikut Mbah Wahab, yang sudah bisa ya ikut Mbah Bisri. Tapi manusia yang macam-macam itu, yang ketat maupun gampangan, mesti dilandasi dengan kasih sayang.

Makanya kalau saya ditanya tentang kriteria kiai itu apa, maka saya jawab:

الذين ينظرون إلى الأمة بعين الرحمة

“Kiai adalah mereka yang memandang umat dengan pandangan rahmat.”

Mereka ini hanya meniru Kanjeng Nabi Muhammad Saw., yang beliau itu:

عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubat ayat 128).

Tapi yang namanya meniru Kanjeng Nabi itu ya tidak mungkin bisa persis meniru semua seperti Nabi. Kalau sama persis nanti dikira ada nabi kembar. Ada yang meniru cara peribadatannya; ada yang meniru model perjuangannya; ada yang meniru cara dakwahnya. Meniru apa saja. Kanjeng Nabi itu hebat dalam bidang apa saja: termasuk saat menjadi panglima.

Jadi, meskipun orang itu pakai sorban sebesar ban truk, jenggotnya puanjang hingga pusar, tapi tidak punya belas kasih kepada umat, maka saya tidak sudi memanggilnya kiai. Sebaliknya, meskipun orang itu tidak berpenampilan kiai, tapi punya belas kasih kepada umat, maka dia itu kiai.

Sama halnya bila ada orang yang merasa pinter, dan menyatakan bahwa orang yang ber-Islam itu harus dengan merujuk langsung pada al-Quran dan al-Hadits. Ini orang yang juga tidak punya belas kasih terhadap orang awam. Bagaimana mungkin, sementara dia saja tidak becus membaca al-Quran, dan belum tentu paham dengan apa yang dibacanya.

Orang Arab sendiri belum tentu paham bila membaca al-Quran secara langsung. Sampeyan bandingkan dengan kiai-kiai zaman dahulu, seperti Imam Syafi’i dan sesudahnya, yang mereka membuat buku-buku praktis semisal Sullamut Taufiq, Safinatun Naja, maupun Taqrib. Ulama seperti mereka itulah yang pantas mengkaji dasar al-Quran dan al-Hadits secara langsung. Tidak sembarangan. Jadi orang-orang awam tinggal mengikut buku-buku praktis yang sudah dibuat, daripada jika mereka disuruh melihat al-Quran sendiri, tentu akan malas. Beliau-beliau para ulama itulah, dengan dilandasi kasih sayang, membantu orang awam dalam memahami Islam.

Dengan melihat istiqomahnya Kiai Zainal dalam ibadah, mengajar dan membimbing santri, paling tidak kita bisa tahu dan mencontoh bagaimana perilaku Nabi. Kita tidak perlu melihat Nabi secara langsung. Saya sendiri kadang melamun, seumpama saya hidup di masa Nabi, tentu saya merasa enak, karena tidak perlu membaca al-Quran, tidak perlu belajar banyak, sebab melihat sendiri sudah ada ‘al-Quran berjalan’. Jadi kalau mau perlu apa-apa tinggal melihat Nabi; Bagaimana membina persaudaraan yang baik melihat Kanjeng Nabi, bagaimana memimpin ummat yang baik melihat Kanjeng Nabi, bagaimana perjodohan yang baik ya melihat Kanjeng Nabi, bagaimana bergaul dengan orang tua melihat Kanjeng Nabi, bagaimana bergaul dengan anak muda melihat Kanjeng Nabi.

Semuanya tidak perlu membuka al-Quran dan tinggal melihat Kanjeng Nabi. Tapi kemudian tersirat pikiran waras saya, ya kalau saya ditakdirkan ikut Kanjeng Nabi. Kalau ternyata saya ditakdirkan ikut Abu Jahal?! Maka tak perlu melamun hidup di zaman Nabi. Kita hidup sekarang di zaman akhir seperti ini juga tidak apa-apa asal kita masih ikut dengan tuntunan Kanjeng Nabi.

Jadi semakin lama kita itu semakin sulit mencari contoh. Kalau kita rajin membaca al-Quran, mengerti maknanya al-Quran, maka tak mengapa bila kita tak usah cari contoh. Kita tidak perlu banyak contoh bila kita sudah rajin membaca al-Quran dan mengetahui makna al-Quran. Tapi yang terjadi; kita sudah tidak punya contoh, membaca al-Quran pun hanya ketika bulan Ramadhan, itupun bacanya ngebut.

Kenapa kalau membeli televisi atau sepeda motor kita tak perlu membaca buku panduannya? Padahal membeli barang-barang seperti itu pasti ada buku tebal sebagai panduannya: kalau mau menghidupkan, tekan tombol yang bertuliskan “power”; bagaimana caranya memindah channel. Tapi saya yakin, panjenengan itu beli tivi atau motor tanpa pernah membaca buku panduannya. Lha kok bisa tahu dari mana? Ya, karena panjenengan sudah sering melihat orang menghidupkan tivi.

Demikian juga dulu para sahabat. Meskipun tidak membaca buku panduan, tapi mereka melihat dan meniru Kanjeng Nabi. Sesudah Kanjeng Nabi tidak ada, ya harus melihat para sahabat sebagai murid-murid Kanjeng Nabi, dan seterusnya, sebagaimana diperintahkan oleh Kanjeng Nabi :

أصحابي كالنجوم، بأيهم اقتديتم اهتديتم

“Sahabat-sahabatku bagai bintang gemintang. Dengan siapapun diantara mereka kalian berpegang, kalian akan mendapat petunjuk.”

Demikian, semoga kita semua mendapatkan barokah Kiai Zainal, menjadi orang yang sholeh. (Ditranskip oleh KH. Hilmy Muhammad atas mauidzah KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) Pesantren Roudhotut Tholibin Leteh Rembang, yang disampaikan dalam tahlilan almarhum KH. Zainal Abidin Munawwir di Krapyak Yogyakarta, Senin 17 Februari 2014 M-16 Robi’uts Tsani 1435 H).

CITRA ISLAM DIBENTUK OLEH PERILAKU SI MUSLIM



Ada kejadian nyata di Australia dua orang muslim hidup di dua tempat berbeda yang kebetulan mayoritas non-muslim. Salah satu dari mereka bersikap buruk, sering merugikan tetangganya, mengganggu dan perilaku tak terpuji lainnya. Sedangkan muslim satu lagi selalu bersikap santun, ramah dan bergaul dengan baik di masyarakatnya.

Suatu ketika, ada pemberitaan di media tentang sosok teroris yang kebetulan beragama Islam. Maka, si tetangga yang memiliki tetangga muslim berperangai buruk akan sesumbar dengan begitu bersemangat: “Betul! Orang-orang Islam memang berbahaya! Mereka semua busuk! Kalian jauhilah orang-orang Islam!”

Sebaliknya, tetangga si muslim yang satunya lagi akan menolak berita itu: “Tidak! Muslim tidak seperti itu! Mereka orang-orang yang baik! Pasti ada yang salah dengan pemberitaan ini!” Bahkan orang tersebut akan sungguh-sungguh membela tetangga muslimnya dari cercaan orang-orang.

Jadi, bagaimana citra agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. hari ini adalah tergantung bagaimana engkau bersikap wahai kaum muslimin. (Cuplikan taushiyah al-Habib Umar bin Hafidz dalam kunjungannya ke Univ. Paramadina Jakarta dan dalam rihlahnya ke Granada Spanyol. Videonya silakan lihat).





Ingatlah hadits riwayat Ibnu Hibban tentang seorang sahabat bernama Fudaik. Ia adalah seorang muslim yang hidup di tengah-tengah non-muslim. Ia memutuskan untuk hijrah, pindah dari negerinya menuju Madinah, hidup bersama Rasulullah Saw.

Namun, ketika ia berpamitan kepada masyarakat dimana ia tinggal, orang-orang membujuknya untuk mengurungkan niat: “Anda orang baik. Kami semua menghormati Anda karena Anda sangat peduli kepada kami. Kami berharap Anda tidak pergi, tetaplah di sini. Kami akan sangat bahagia jika Anda tetap menjadi bagian dari kami.”

Maka Fudaik tetap pergi ke Madinah, namun ia berkonsultasi kepada Rasulullah Saw. atas bujukan masyarakatnya. Apa jawab Rasulullah Saw.? Beliau Saw. bersabda: “Laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, tinggalkan segala keburukan, dan tinggallah di antara orang-orangmu di manapun kau mau. Jika kau melakukannya, kau adalah seorang ‘muhajir’.”

Maka jadilah warga yang baik, atau di manapun kau berada. Selama kau tidak dilarang untuk melaksanakan ajaran agamamu, tinggallah bersama masyarakatmu dengan baik. Namun satu catatan; kita harus semampu mungkin melaksanakan ajaran agama dengan total, sebagaimana disyaratkan Rasulullah terhadap Fudaik. Terutama menjauhi segala keburukan dan kejahatan, sehingga seorang muslim bisa menjadi teladan di tengah masyarakatnya. (Cuplikan taushiyah Syaikh Abdullah bin Bayyah di Kensington Hall London. Videonya silakan lihat di sini). 


(Kontributor: Ustadz Zia Ul Haq).

Senin, 28 April 2014

Jadwal Majelis Rasulullah 1-3 Mei 2014

Jadwal Majelis Rasulullah 1-3 Mei 2014

JADWAL MAJELIS RASULULLAH SAW:

Kamis, 01 Mei 2014
TABLIGH AKBAR MINGGUAN, GEDUNG DALAIL KHOIROT Jam 20:15 WIB, Komplek Hankam, Cidodol, Kebayoran Lama - JAKARTA SELATAN

Sabtu, 03 Mei 2014
TABLIGH & DZIKIR AKBAR, Masjid At Taubah Jam 20:30 WIB
Remaja Islam Tanah Kusir, Lapangan Tanah Kusir 2
Jl. Tanah Kusir 2 (depan SMP 164), Kebayoran Lama - Jakarta Selatan

Minggu, 27 April 2014

Siti Muthi’ah, Wanita Pertama yang Masuk Surga

Wanite Pertama yang Masuk Surga

Siapakah Wanita Pertama yang Masuk Kedalam Surga?

Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rosulullah menjawab:” Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah”.

Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang la...in, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri? Maka timbullah keinginan fatimah untuk mengetahui siapakan gerangan permpuan itu? Dan apakah yang telah di perbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah minta izin kepada suaminya, Ali Bin Abi Thalib, Siti Fatimah berngkat mencari rumah kediaman Muti’ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.

Ketika tiba di rumah Muti’ah, Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, “Assalamu’alaikum…!”

“Wa’alaikumussalaam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.

“Saya Fatimah, Putri Rosulullah,” sahut Fatimah kembali.

“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rosululah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.

“Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, Yaitu Muti’ah seraya membukakan pintu.

“Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.

“Aduh maaf ya,” kata Muti’ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.

“Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya? saya akan minta izin dulu kepada suami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala , Fatimah pamit dan kembali pulang.

Besoknya, Fatimah dating lagi ke rumah Muti’ah, kali ini ditemani oleh Hasan dan Husain. Beritga mereka mendatangi rumah Muti’ah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Muti’ah bertanya:

“Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.” “Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga, “ dengan perasaan menyesal, Muti’ah kai ini juga menolak.

Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti’ah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu dirumahnya.

Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.

Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehngga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.

“Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,” kata Mutiah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.

Mendekati tengah hari , maskan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.

“Suamimu bekerja dimana?” Tanya Fatimah

“Di ladang,” jawab Muti’ah.

“Pengembala?” Tanya Fatimah lagi.

“Bukan. Bercocok tanam.”

“Tapi, mengapa kau bawakan cambuk?”

“Oh, itu?” sahut Mutiah denga tersenyu.” Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah maskan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”

“Apakah itu kehendak suamimu?” Tanya Fatimah keheranan.

“Oh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”

Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.

“Pantas kalau Muti’ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalannya pulang, “Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Prilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambing perbudadakan wanita oleh kaum lelaki, Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan prilaku yang sama.”

tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.

“Buat apa benda ini Muthi’ah?” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”

sungguh mulia Siti Muthi’ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga.

Cara Sayyidatuna Fatimah Az Zahra Memohon Maaf Kepada Suaminya

Cara Sayyidatuna Fatimah Az Zahra Memohon Maaf Kepada Suaminya

Cara Sayyidatuna Fatimah Az Zahra Memohon Maaf Kepada Suaminya, Ali bin Abi Thalib.

Ketaatan Sayyidatuna Fatimah Az Zahra kepada suaminya Sayyiduna Ali menyebabkan Allah subhanahu wa ta'ala mengangkat darajatnya. Sayyidatuna Fatimah Az Zahra tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusah­kan suaminya. Meski begitu, kemiskinan tidak menghalangi Sayyidatuna Fatimah Az Zahra untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan.

Pernah suatu hari, Sayyidatuna Fatimah Az Zahra telah membuat Sayyiduna Ali terusik hati dengan kata-katanya. Menyadari kesalahannya, Sayyidatuna Fatimah Az Zahra segera meminta maaf berulang-ulang kali.

Melihat air muka suaminya tidak juga berubah, maka Sayyidatuna Fatimah Az Zahra mengelilingi Sayyiduna Ali. Tujuh puluh kali dia 'tawaf' sambil merayu-rayu mohon untuk dimaafkan. Melihat tingkah laku Sayyidatuna Fatimah Az Zahra itu, tersenyumlah Sayyiduna Ali dan lantas memaafkan istrinya itu.

"Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedangkan suamimu Ali tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menyolatkankan jenazahmu," Rasulullah sollallahu 'alaihi wasallam memberi nasihat kepada puterinya itu saat perkara ini sampai ke telinga Nabi SAW.

Begitulah yang ditetapkan Allah SWT mengenai kedudukan suami sebagai pemimpin bagi seorang isteri. Betapa seorang isteri itu perlu berhati-hati di saat berhadapan dengan suami. Apa yang dilakukan Sayyidatuna Fatimah Az Zahra itu bukanlah suatu kesengajaan. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah agung ini.

Rabu, 23 April 2014

Muslim Berkewajiban Menebarkan Kedamaian ke Seluruh Dunia


Umat Islam adalah pihak yang paling berhak sekaligus paling berkewajiban menebarkan kedamaian. Akar kata Islam; ‘silm’, bermakna kedamaian. Dan upaya menebar kedamaian adalah termasuk jihad.
Perang (qitaal) hanya salah satu bentuk jihad dalam kondisi tertentu, tapi jihad tak melulu berarti perang. Karena makna jihad adalah perjuangan. Sedangkan perjuangan sangat luas ruang lingkupnya. Bukankah untuk bersabar pun butuh perjuangan? Menahan amarah lebih berat daripada melampiaskannya. Itulah perjuangan, jihad. Maka jihad perdamaian jauh lebih berat dan lebih patut diperjuangkan.

Pesan kedamaian Islam sangat jelas dalam sapaan doa umat Islam; Assalaamu’alaikum, semoga kedamaian bagimu. Begitupun dalam ayat pertama al-Quran: “Bismillaahirrahmaanirrahiim”, dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kita adalah bentuk kasih sayang Tuhan bagi semesta alam.

Allaahumma Antassalaam; Duhai Allah, Engkaulah Kedamaian. Waminkassalaam wa ilayka ya’uudussalaam; Dan dari-Mulah kedamaian berasal serta kembali. Fahayyinaa Robbanaa bissalaam; Maka hidupkanlah kami bersama kedamaian. Wa adkhilnaljannata daarossalaam; Dan masukkan kami ke dalam surga, negeri kedamaian. Aamiin.

Itulah salah satu ujaran Maulana Wahiduddin Khan, pendiri Centre of Peace and Spirituality - India. (www.cpsglobal.org)

Sebelumnya, kita sudah pernah ‘kenalan’ dengan pandangan tokoh-tokoh internasional yang bergerak dalam upaya perdamaian, pendidikan dan kesejahteraan sosial. Seperti Said Nursi Badi’uzzaman (Pahlawan Turki), Fethullah Gulen Hojaefendi (Hizmet), Abu Anis Barkat Ali (Ihsan Foundation), Ali Zainal Abidin Al-Jufri (Tayba Foundation), Hamza Yusuf (Zaytuna College), Zaid Syakir (Radical Middle Way), Muhammad Tahir Ul Qadri (Minhaj Ul Quran), hingga tokoh kita kali ini, Wahiduddin Khan.
Gaya mereka sama, yakni:
1. Kedalaman ilmu syariahnya.
2. Berlatar belakang tasawwuf.
3. Moderat, yakni berdiri di antara pengabaian (ignorance) dan berlebihan (extremism).
4. Memulai pergerakannya secara sosial dengan membangun kesamaan visi bersama rekan-rekannya.
5. Disamping keliling menyampaikan gagasan dalam orasi, seminar, ataupun diskusi, mereka juga menulis.

Nama-nama yang disebutkan di atas adalah para penulis handal yang menuangkan berbagai hal dalam kehidupan dari kacamata Islam. Sosial, politik, ekonomi, seni, budaya, lingkungan, spiritualisme. Ada yang ditulis sendiri, adapula yang ditulis secara transkripsi oleh murid-muridnya. Bagaimanapun, tulisan bisa lebih tajam dari pedang dan lebih awet dalam merekam ide dari sekedar ingatan, serta tentunya lebih mudah dijangkau kapanpun dimanapun.

Nah, bagaimana dengan kita di Indonesia? Mau mentranskrip teks-teks kesejukan dan pemikiran tokoh-tokoh ulama kita? (Ustadz Zia Ul Haq tegal)

ISTIKHARAH POLITIK KITA, PARTAI ISLAM?



Asy-Syaikh M. Said Ramadhan al-Buthi pernah diajak untuk membuat Partai Islam oleh Presiden Hafez Asad. Beliau ditanya: “Anda adalah pemuka Islam yang disukai rakyat Suriah. Kenapa tidak membuat partai berbasis Islam supaya aspirasi Muslim tersalurkan, karena mungkin mereka tidak suka partai sekuler seperti partai Baath?”

Syaikh al-Buthi menjawab: “Oke, mungkin saya istiqamah pada Islam, mungkin saya bisa jadi teladan yang baik dalam berpolitik, dan saya yakin dalam setahun saya bisa mendapat jutaan pendukung. Tapi, apa saya bisa memastikan orang-orang yang mengikuti partai Islam saya benar-benar mencerminkan akhlak Islam? Kalaupun ketika saya hidup mereka menjadi seperti saya, apa Anda bisa yakin kalau saya sudah mati mereka tetap seperti itu? Kalau mereka berbuat salah, Islam yang dibawa-bawa, padahal Islam bukan diwakili oleh partai.

Kemudian, kalau saya menjadi ketua partai, saya akan merasa mendzalimi umat Islam lainnya yang tidak masuk partai saya. Kalau suatu saat anggota partai saya berbuat salah, orang partai lain menghujat anggota partai saya, saya pastinya akan mendukung anggota saya dan membelanya. Sedangkan saya tahu dia salah dan orang partai lain yang benar. Tapi karena dia orang partai saya, saya membela dia. Saya jadi sangat dzalim!

Biarlah saya berdakwah seperti ini, tanpa bawa-bawa partai. Kalau mau berdakwah ,jangan sampai kamu dipolitiki. Kalau mau berpolitik kamu harus tahu agama, tapi jangan dekati mimbar.” (Disadur dari tulisan Ustadz Ichwands).

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 21 April 2014

Ziarah ke Makam Rosulullah Sholallahu Alaihi Wasallam


KH. Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta

Oleh: KH. Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta

A. Pendahuluan

Pada suatu ketika Nabi Muhammad Saw. membaca ayat berisi keluhan Nabi Isa As.:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu hambaMu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa Maha Bijaksana.” (QS. al-Maidah ayat 118).

Dan beliau membaca lagi ayat berisi keluhan Nabi Ibrahim As.:

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia. Barangsiapa yang mengikutiku maka ia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim ayat 36).

Lalu Nabi Muhammad Saw. berdoa mengangkat kedua tangannya dan bersabda:

اَلّلهُمَّ أُمَّتِي

“Ya Allah, umatku…”

Beliau Saw. bersujud dan menangis (benar-benar memohon dikabulkannya dari Allah Swt.). Selanjutnya. Allah Maha Mendengar doa keluhan itu dan mengutus Malaikat Jibril untuk menanyakan apa sebab Nabi Muhammad Saw. menangis. Setelah Malaikat Jibril melakukan tugas lalu melaporkan kembali kepada Allah Ta’ala. Lalu Allah memerintahkan kembali Malaikat Jibril untuk menyampaikan keputusanNya kepada Nabi Saw.:

إِنَّا سَنُرْضِيْكَ فِي أُمَّتِكَ وَلاَ نَسُوْءُكَ

“Sesungguhnya Aku meluluskan kerelaanmu buat umatmu, dan Aku tidak menimpakan kejelekan atasmu.” (HR. Muslim).

Melihat kisah tersebut kita mengetahui betapa besar tanggung jawab Nabi Saw. untuk menyelamatkan umatnya, kaum muslimin. Dan betapa besar anugerah Allah Swt. yang dilimpahkan kepada kita lantaran permohonan beliau Saw. itu.

Nabi Muhammad Saw. benar-benar agung jasanya buat kita bahkan terlalu agung. Tidakkah kita perlu membalas jasanya itu? Dalam batas yang paling kecil saja, misalnya; seberapa besar kecintaan (mahabbah) kita kepada Nabi Saw.?

Mahabbah kepada Nabi Saw. adalah pertanda keimanan. Nabi Saw. pernah mendoakan Sayyidina Harmalah bin Yazid yang datang menghadapnya:

اَلّلهُمَّ اجْعَلْ لَّهُ لِسَانًا صَادِقًا وَقَلْبًا شَاكِرًا وَاْرزُقْهُ حُبِّي وَ حُبَّ مَنْ يُحِبُّنِي

“Ya Allah jadikanlah lisan Harmalah berkata jujur, hatinya syukur, dan anugerahilah kecintaannya kepadaku dan kepada sekalian orang yang mencintaiku.” (HR. ath-Thabarani).

Dari hadits ini bisa kita petik suatu hikamah, yaitu betapa besarnya nilai mahabbah kepada Nabi Saw.

Mahabbah atau rasa cinta bukanlah sekedar diucapkan dengan lisan. Tetapi yang terpenting adalah sikap hati. Setelah hati cinta, maka lisan akan menyatakan dan dengan sendirinya perbuatan anggota badan akan siap mengabdi dan berkorban. Apabila kita benar-benar mencintai Nabi Saw., maka hati kita selalu tertambat pada beliau, lisan kita selalu menyebut asma beliau, dan kita kerahkan diri kita untuk memenuhi petunjuk beliau.

Tuntutan rasa cinta murni tidak sekedar begitu. Tetapi kita selalu ingin duduk berdampingan, melihat beliau dan mengunjungi kediaman beliau. Seperti inilah cinta yang sejati. Hal ini tidak beda dari sebait syair yang digubah oleh seseorang yang mencintai Nona Laila:

أَرَاْلأَرْضَ تُطْوَى لِي وَ يَدْ نُوْ بَعِيْدُهَا # وَكُنْتُ إِذَا مَا جِئْتُ ليلي أَزُرُوْهَا

“Dan jika aku berkunjung kepada Laila, kurasakan sang bumi terlipat kecil, jarak jauh terasa dekat.”

Dengan demikian kita bisa mengukur seberapa kadar mahabbah kita kepada Nabi Muhammad Saw. Berapa menit sehari hati kita tertambat kepada Nabi Saw.? Berapa puluh kali sehari lisan kita membaca Shalawat Nabi? Dan berapa banyak tuntunan Nabi Saw. telah kita kerjakan? Demikian pula, berapa kali kita telah mengunjungi Nabi Saw. –tempat kediaman Nabi Saw.? Atau berapa kali kita telah niat untuk ziarah kepada Nabi Saw, dan seterusnya?

B. Ziarah Ke Makam Nabi Muhammad Saw.

Ziarah makam Nabi Saw. adalah salah satu bentuk ekspresi rasa mahabbah kepada beliau. Selain itu, Nabi Saw. sendiri telah bersabda:

مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِى بَعْدَ وَفَاِتي فَكَأنَّمَا زَارَنىِ فِى حَيَاتى

“Barangsiapa berhaji lalu ziarah ke kuburku setelah wafatku, maka bagaikan ia mengunjungiku saat masih hidupku.” (HR. al-Baihaqi, ath-Thabarani dan lainnya).

مَنْ زَارَ قَبْرِى وجبت له شفِاعتى

“Barangsiapa ziarah ke kuburku, maka pastilah ia mendapat syafaatku.” (HR. al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).

مَنْ جَاءَنِى زَائِراً لَايَعْلَمُ حَاجَةً إِلاَّزِيَارَتِى كَانَ حَقًّا عَلَيَّ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ شَفِيْعًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

“Barangsiapa berziarah kepadaku dan hanya itu saja keperluannya, maka kewajiban atasku untuk mensyafaatinya di hari kiamat.” (HR. ath-Thabarani dan ad-Daruquthni).

Demikianlah tiga dalil hadits secara tegas menerangkan keutamaan ziarah ke makam Nabi Saw. Dalam hadits berikut bisa kita ketahui adanya anjuran untuk kita melakukannya:

مَامِنْ أَحَدٍ مِنْ اُمَّتِي لَهُ سَعَةٌ ثُمَّ لَمْ يَزُرْنِى فَلَيْسَ لَهُ عُدْرٌ

“Tak seseorangpun dari umatku yang telah berkesempatan (untuk ziarah) kemudian tidak mau melakukan ziarah kepadaku, melainkan tiada lagi alasan baginya.” (HR. Ibn Najjar).

C. Keutamaan Ziarah Ke Makam Nabi Muhammad Saw.

Dari hadits di atas telah kita ketahui bahwa ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw. adalah sama utamanya dengan ziarah kepada Nabi Saw. sewaktu hidupnya. Dalam hadits lainnya dikatakan:

لاَتُشَدُّالرَّجَلُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةٍ مَسَاجِدَ : المَسْجِدِ الحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا، والمَسْجِدِاْلأَقْصَى

“Tidak perlu mengadakan pemberangkatan kecuali untuk menuju tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjid al-Aqsha.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menegaskan bahwa ada tiga masjid yang mempunyai keutamaan. Selain yang tiga itu tingkat keutamaannya sama saja; masjid besar terletak di kota besar dan dihuni oleh orang-orang besar, tingkat keutamaannya sama saja dengan masjid kecil di kota kecil dibangun dan dihuni oleh orang-orang kecil.

1. Masjid al-Haram di Makkah mempunyai keutamaan shalat di dalamnya bernilai 100.000 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai Baitullah dan di sini pula terletak Ka’bah yang menjadi kiblat kaum Muslimin.
2. Masjid al-Aqsha di Palestina mempunyai keutamaan shalat di sana bernilai 500 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai masjid tempat peribadahan para nabi Bani Israel. Dan bahkan di sini pula mereka disemayamkan.
3. Masjid Nabawi mempunyai keutamaan shalat di dalamnya bernilai 1000 kali lipat, yaitu dua kali keutamaan Masjid al-Aqsha. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai masjid yang dibangun oleh Nabi Saw., tempat beribadahnya Nabi Saw., pusat pennyiaran Islam di hari-hari pertamanya, dan bahkan di situ pula Nabi Saw. dikuburkan. Jadi keutamaan yang besar yang dimiliki Masjid Nabawi adalah semata-mata karena diri Nabi Saw. Nabi Saw. lah yang menjadi sumber keutamaan masjid tersebut. Kalau bukan karena Nabi Saw. ada di situ, maka niscaya sama saja dengan masjid-masjid yang lain.

Sekarang kita sudah mengetahui Masjid Nabawi mempunyai keutamaan sebesar itu dikarenakan ada Nabi Saw. Hal ini berarti sumber keutamaannya adalah Nabi Saw. dan Masjid Nabawi tersebut dapat menimbulkan curahan rahmat dan berkah bagi orang yang mengunjunginya dan beribadah di dalamnya.

Ada satu pertanyaan dari sekelompok orang yang salah memahami dalil bahwa: “Memang benar ziarah ke Masjid Nabawi akan memperoleh berkah, tetapi ziarah ke makam Nabi yang menjadi sumber berkah masjid tersebut justru tidak memperoleh berkah, dan bahkan dilarang melakukannya.”

Menurut pembaca risalah ini, benarkah logika kaum yang salah paham tersebut? Kami yakin, Anda sepakat dengan kami dan bahwa logika sekelompok orang itu salah. Anak yang baru tingkat ibtidaiyyah (SD) pun akan mampu menunjukkan kesalahan logika tersebut.

Syaikh Abu Said al-Hammami, seorang ulama al-Azhar Mesir, menilai bahwa logika itu hanya mungkin diucapkan oleh:

المَجَانِيُن اْلَّذِيْنَ لاَيَعُوْنَ مَا يَقُوْلُوْنَ أَوْ يَقُوْلُهُ عَدَوُّالإِسْلاَمَ وَرَسُوْلِ اْلإِسْلاَمِ

“Orang-orang gila yang tidak paham lagi perkataannya sendiri atau perkataan itu dikemukakan oleh musuh Islam dan musuh Rasulullah Saw.” (Lihat dalam Ghauts al-‘Ibad halaman 105 karya Syaikh Abu Yusuf al-Hammami, cet. Isal Babil Halabi, Mesir, tahun 1350 H).

D. Ada yang Salah Paham

Seperti telah kami singgung di atas ada sekelompok orang yang melarang untuk ziarah ke makam Nabi Saw. Mereka berdalil pada hadits:

لاَتُشَدُّالرَّجَلُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةٍ مَسَاجِدَ : المَسْجِدِ الحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا، والمَسْجِدِاْلأَقْصَى

“Tidak perlu mengadakan pemberangkatan kecuali untuk menuju tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjid al-Aqsha.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kami merasa aneh bin ajaib. Mengapa hadits tersebut dikatakan menunjukkan adanya larangan ziarah ke makam Nabi Saw.? Uraian lebih lanjut dan lebih lengkap terlalu panjang ditulis di sini. Kami persilakan Anda membaca buku kami yaitu “Hujjatu Ahlissunnah wal Jama’ah” halaman 27-35.

Untuk menambah keterangan, dalam kitab asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa, al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ziarah makam Nabi Saw. adalah merupakan keutamaan dan hal itu telah menjadi ijma’ seluruh kaum Muslimin. Demikian, Wallahu A’lam. (Diedit ulang dari catatan Ustadz Muhammad Yusuf Anas, MA Unggulan Al-Imdad).

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 22 April 2014

Haul Akbar dan Harlah Lembaga Darul Hadits 26-27 April 2014

Haul Akbar dan Harlah Lembaga Darul Hadits 26-27 April 2014


Hadirilah Haul Akbar dan Harlah Lembaga Darul Hadits
 
Al-imam Alhabr Al Qutb AlHabib Abdul Qodir Bin Ahmad Bilfaqih Ke-53 dan Al-Ustadzul imam al muhaddist al Qutb Al-Habib Abdullah Bin Abdul Qodir Bin Ahmad Bilfaqih Ke-23 Serta Harlah Lembaga Darul Hadits Ke-69

dengan susunan Acara :

1. SABTU,26 APRIL 2014.
Pukul 15.00 s/d 17.30 WIB Ziarah di Tempat Pemakaman Umum Kasin Kota Malang.
Pukul 18.00 s/d 21.00 WIB.
Khotmul Qur'an dan Pembacaan Manaqib Jln Aries Munandar 8A-10 kota Malang.

MINGGU,27 APRIL 2014.
Pukul 05.00 s/d 06.00 WIB.
Pembacaan Maulid di Aula Pesantren. Jln Aries Munandar 8A-10 Kota Malang. Pukul 08.00 s/d 12.00 WIB.

Insya Allah akan di hadiri oleh tokoh Habaib,Ulama,Umaro Dan Alumni serta Umat Islam dalam dan luar negeri.

Bertawasullah Kepada Rosulullah SAW

Bertawasullah Kepada Rosulullah SAW

Ketahuilah, bahwasannya tidak ada orang yang bisa sampai kepada Allah SWT terkecuali melalui Nabi Muhammad SAW


Lihatlah bagaimana Sayyidina Adam AS diterima taubatnya yang dikarenakan tawasulnya kepada nama Nabi Muhammad SAW yang telah tertulis di tiang tiang surga

Bahkan dahulu orang orang Yahudi pun bertawasul kepada Nabi Muhammad SAW, ketika itu timbul peperangan antara Yahudi Khaibar melawan Bani Ghatafan, maka tidaklah mereka memperoleh kemenangan terkecuali karena ucapan tawasul mereka "Ya tuhan, kami memohon kemenangan berkat Nabi akhir zaman yang telah kau janjikan di hari akhir nanti"

Lihat juga bagaimana Sayyidina Utsman bin Affan, yang ketika beliau sedang sibuk karena melayani tamu datang seseorang mengetuk pintunya dan mengutarakan keinginannya "Wahai khalifah aku ingin ini..itu..dsb" tetapi karena beliau sedang sibuk maka tidak terdengar suaranya, maka keluarlah orang tersebut dengan kesedihan dan bertemu Sayyidina Utsman bin Hunaif, diceritakan keluh kesah orang tersebut kepadanya, lalu berkata Sayyidina Utsman bin Hunaif "Maukah engkau aku beritahu bagaimana cara agar Khalifah Utsman mengabulkan permintaanmu?", "Berwudhulah dan shalat 2 rakaat dan bacalah doa "Ya Allah, aku meminta kepadaMu dan berkat Nabi Muhammad, Ya Rasulullah bahwa aku bertawasul kepada engkau", sampailah orang tersebut di kediaman sang Khalifah dan bertemu dengan Sayyidina Utsman bin Affan, didudukan ia diatas permadani yang bagus, "Wahai Amirulmukminin, permintaanku ini dan itu dsb" maka permintaan tersebut dikabulkan oleh Sayyidina Utsman bin Affan, keluar dari kediaman sang Khalifah bertemu lagi ia dengan Sayyidina Utsman bin Hunaif dan berkata "Wahai fulan, sungguh aku tidak memberi tahu khalifah perihal kedatanganmu dan sungguh hal ini (terwujudnya keinginan berkat tawasul) telah terjadi di masa Nabi SAW"

Diriwayatkan bahwasannya dahulu ada seorang miskin dan buta datang kepada Nabi SAW dan berkata "Wahai Nabi, mataku buta dan aku miskin maka tiada yang mau menuntunku" dan Nabi SAW pun menyuruh orang tadi untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Sayyidina Utsman bin Hunaif menyuruh orang yang datang kepada Khalifah tadi, maka merugilah mereka yang ingkar kepada tawasul dan shalawat kepada Nabi SAW

Dan ketahuilah bahwasannya tidak ada aqidah yang mengajarkan kita untuk tidak memusuhi orang lain terkecuali Ahlussunah wal Jamaah yang telah dibangun oleh Salafussholeh, karena diluar aqidah ini mereka telah berani mengkafirkan orang lain (yang tidak sama dengannya) dan ketahuilah bahwasannya hadist tadi (tawasul) dishahihkan oleh Imam AtThabrani, Imam Adzahabi, dan bahkan oleh Ibnu Taimiyah sekalipun, maka sungguh merugi mereka yang mengaku cinta kepada Nabi SAW tapi menginjak injak Syariat Allah SWT

(AlHabib Abdurrahman bin Hasan AlHabsyi)

JADWAL MAJELIS RASULULLAH SAW 24-26 April 2014


JADWAL MAJELIS RASULULLAH SAW

Kamis, 24 April 2014
TABLIGH AKBAR MINGGUAN, GEDUNG DALAIL KHOIROT Jam 20:15 WIB, Komplek Hankam, Cidodol, Kebayoran Lama - JAKARTA SELATAN

Sabtu, 26 April 2014
TABLIGH & DZIKIR AKBAR, Masjid At Taubah Jam 20:30 WIB
Makam AlHabib Ahmad AlHaddad (Makam Habib Kuncung), Jl.Rawajati Timur, Kalibata - JAKARTA SELATAN

*konvoi dari Masjid AlMunawar, Pancoran jam 19:30

Manaqib Syekh Nawawi al-Bantani


Syekh Nawawi Al Bantani

Nama lengkapnya adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar bin Arbi bin Ali Al-Tanara Al-Jawi Al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani. Dilahirkan di kampung Tanara, kecamatan Tirtayasa, kabupaten Serang, Banten. Pada tahun 1813 M atau 1230 H. Ayahnya bernama Kyai Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke 12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari Putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyara-ras (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Muhammad melalui Imam Ja’far Assidiq, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ali ZainAl-Abidin, Sayyidina Husain, Fatimah Al-Zahra
PERJALANAN INTELEKTUAL SANG PUJANGGA SEJATI 1
Pada usia lima tahun Syekh Nawawi belajar langsung dibawah asuhan ayahandanya. Di usia yang masih kanak-kanak ini, beliau pernah bermimpi ber-main dengan anak-anak sebayanya di sungai, karena merasakan haus ia meminum air sungai tersebut sampai habis. Namun, rasa dahaganya tak kunjung surut. Maka Nawawi bersama teman-temannya beramai-ramai pergi ke laut dan air lautpun diminumnya seorang diri hingga mengering.
Ketika usianya memasuki delapan tahun, anak pertama dari tujuh bersaudara itu memulai peng-gembaraannya mencari ilmu. Tempat pertama yang dituju adalah Jawa Timur. Namun sebelum berangkat, Nawawi kecil harus menyanggupi syarat yang diajukan oleh ibunya, “Kudo’akan dan kurestui kepergianmu mengaji dengan syarat jangan pulang sebelum kelapa yang sengaja kutanam ini berbuah.” Demikian restu dan syarat sang ibu. Dan Nawawi kecilpun menyanggupi-nya.
Maka berangkatlah Nawawi kecil menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu menuntut ilmu. Setelah tiga tahun di Jawa Timur, beliau pindah ke salah satu pondok di daerah Cikampek (Jawa Barat) khusus belajar lughat (bahasa) beserta dengan dua orang sahabatnya dari Jawa Timur. Namun, sebelum diterima di pondok baru tersebut, mereka harus mengikuti tes terlebih dahulu. Ternyata mereka ber-tiga dinyatakan lulus. Tetapi menurut kyai barunya ini, pemuda yang bernama Nawawi tidak perlu mengu-langi mondok. “Nawawi kamu harus segera pulang karena ibumu sudah menunggu dan pohon kelapa yang beliau tanam sudah berbuah.” Terang sang kyai tanpa memberitahu dari mana beliau tahu masalah itu.
Tidak lama setelah kepulangannya, Nawawi muda dipercaya yang mengasuh pondok yang telah dirintis ayahnya. Di usianya yang masih relatif muda, beliau sudah tampak kealimannya sehingga namanya mulai terkenal di mana-mana. Mengingat semakin banyaknya santri baru yang berdatangan dan asrama yang tersedia tidak lagi mampu menampung, maka kyai Nawawi berinisiatif pindah ke daerah Tanara Pesisir.
Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan un-tuk pergi ke Makkah menunaikan ibadah haji. Disana ia memanfaatkan waktunya untuk mempelajari bebe-rapa cabang ilmu, diantaranya adalah: ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadits, tafsir dan ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Makkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 M dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk mem-bantu ayahnya mengajar para santri.
Namun hanya beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Makkah sesuai dengan impiannya untuk mukim dan menetap di sana. Di Makkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal. Pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syekh Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Bima, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayyid Ahmad Dimyati, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan2 yang keduanya di Makkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Syekh Muhammad Khatib Al-Hambali. Kemudian pada tahun 1860 M. Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid Al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup me-muaskan, karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia tercatat sebagai syekh disana. Pada tahun 1870 M, kesibukannya bertambah, karena ia harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian koleganya dan para sahabatnya dari Jawa. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan menulis syarh selain karena permin-taan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering meng-alami perubahan (ta’rif) dan pengurangan.
Dalam menyusun karyanya Syekh Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Karya-karya beliau cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia karena karya-karya beliau mudah difahami dan padat isinya. Nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H./19 M. Karena kemasyhurannya beliau mendapat gelar: Sayyid Ulama Al-Hijaz, Al-Imam Al-Muhaqqiq wa Al-Fahhamah Al-Mudaqqiq, A’yan Ulama Al-Qarn Al-Ram Asyar li Al-Hijrah, Imam Ulama’ Al-Haramain.
Syekh Nawawi cukup sukses dalam mengajar murid-muridnya, sehingga anak didiknya banyak yang menjadi ulama kenamaan dan tokoh-tokoh nasional Islam Indonesia, diantaranya adalah: Syekh Kholil Bangkalan, Madura, KH. Hasyim Asy’ari dari Tebu Ireng Jombang (Pendiri Organisasi NU), KH. Asy’ari dari Bawean, KH. Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur-Purwakarta, KH. Abdul Karim dari Banten.
SYEKH NAWAWI BANTEN SEBAGAI MAHAGURU SEJATI 3
Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan kebanyakan orang menjulukinya sebagai Imam Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah yang membuat Syarah Shahih Muslim, Majmu’ Syarhul Muhadzab, Riyadhus Sholihin dan lain-lain. Melalui karya-karyanya yang tersebar di Pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama kyai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejuk-kan. Di setiap majelis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu, dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat terkenal.
Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila KH. Hasyim Asy’ari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali KH. Hasyim Asy’ari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.

GORESAN TINTA SYEKH NAWAWI
Di samping digunakan untuk mengajar kepada para muridnya, seluruh kehidupan beliau banyak dicurahkan untuk mengarang beberapa kitab besar sehingga tak terhitung jumlahnya. Konon saat ini masih terdapat ratusan judul naskah asli tulisan tangan Syekh Nawawi yang belum sempat diterbitkan.
Kitab-kitab karangan beliau banyak yang di-terbitkan di Mesir, seringkali beliau hanya mengirim-kan manuskripnya dan setelah itu tidak memperduli-kan lagi bagaimana penerbit menyebarkan hasil karyanya, termasuk hak cipta dan royaltinya, selanjutnya kitab-kitab beliau itu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand dan juga negara-negara di Timur Tengah. Menurut Ray Salam T. Mangondana, peneliti di Institut Studi Islam, Universitas of Philippines, ada sekitar 40 sekolah agama tradisional di Filipina yang menggunakan karya Nawawi sebagai kurikulum belajarnya. Selain itu Sulaiman Yasin, dosen di Fakultas Studi Islam Universitas Kebangsaan di Malaysia juga menggunakan karya beliau untuk mengajar di kuliahnya. Pada tahun 1870 para ulama universitas Al-Azhar Mesir pernah mengundang beliau untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiah. Mereka tertarik untuk mengundang beliau, karena sudah dikenal di seantero dunia.
Diantara karya-karyanya adalah:
1.    Muraqah As-Su’ud At-Tashdiq; komentar dari kitab Sulam At-Taufiq.
2.    Nihayatuz Zain; komentar dari kitab Qurratul ‘Ain.
3.    Tausiyah ‘Ala Ibn Qasim; komentar dari kitab Fathul Qarib.
4.    Tijan Ad-Durari; komentar dari kitab Risalatul Baijuri.
5.    Tafsir Al-Munir; yang dinamai Marahi Labidi Li Kasyfi Ma’ani Al-Qur’an Al-Majid.
6.    Sulamul Munajat; komentar dari kitab Safinatus Sholat.
7.    Nurudz Dzalam; komentar dari kitab Aqidatul Awam.
8.    Kasyfatus Saja; komentar dari kitab Safinah An-Naja.
9.    Muraqil Ubudiyyah; komentar dari kitab Bidayatul Hidayah.
10. Uqudul Lujjain fi Bayaniz Zaujain; sebuah kitab yang berisikan tuntutan membangun rumah tangga.
11. Bahjatul Wasa’il; komentar dari kitab Risalatul Jami’ah.
12. Madarij as-Shu’ud; komentar dari kitab Maulid Barjanzi.
13. Salalimul Fudlala’; yang dinilai dengan, Hidayatul Adzkiya.
14. Ats-Tsamarul Yani’ah; komentar dari kitab Riyadhul Badi’ah.
15. Nashailul ‘Ibad; kitab yang berisi nasehat-nasehat para ahli ibadah.
Syeikh Nawawi menghembuskan nafas terakhir di usia 84 tahun, tepatnya pada tanggal 25 Syawal 1314 H. atau 1897 M. Beliau dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Rasulullah SAW. Beliau sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawal selalu diadakan acara haul untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten. 
KAROMAH-KAROMAH SYEKH NAWAWI AL-BANTANI
1.    Pada suatu malam Syekh Nawawi sedang dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah. Beliau duduk di atas ‘sekedup’ onta atau tempat duduk yang berada di punggung onta. Dalam perjalanan di malam hari yang gelap gulita ini, beliau mendapat inspirasi untuk menulis dan jika insipirasinya tidak segera diwujudkan maka akan segera hilang dari ingatan, maka berdo’alah ulama ‘alim allamah ini, “Ya Allah, jika insipirasi yang Engkau berikan malam ini akan bermanfaat bagi umat dan Engkau ridhai, maka ciptakanlah telunjuk jariku ini menjadi lampu yang dapat menerangi tempatku dalam sekedup ini, sehingga oleh kekuasaan-Mu akan dapat menulis inspirasiku.” Ajaib! Dengan kekuasaan-Nya, seketika itu pula telunjuk Syekh Nawawi menyala, menerangi ‘sekedup’nya. Mulailah beliau menulis hingga selesai dan telunjuk jarinya itu kembali padam setelah beliau menjelaskan semua penulisan hingga titik akhir. Konon, kitab tersebut adalah kitab Maroqil Ubudiyah, komentar kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Al-Ghazali.
2.    Ketika tempat kubur Syekh Nawawi akan dibongkar oleh Pemerintah untuk dipindahkan tulang belulangnya dan liang lahatnya akan ditum-puki jenazah lain (sebagaimana lazim di Ma’la) meskipun yang berada di kubur itu seorang raja sekalipun. Saat itulah para petugas mengurungkan niatnya, sebab jenazah Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh walaupun sudah bertahun-tahun dikubur. Karena itu, bila pergi ke Makkah, insya Allah kita akan bisa menemukan makam beliau di pemakaman umum Ma’la. Banyak juga kaum muslimin yang mengunjungi rumah bekas peninggalan beliau di Serang Banten.
Syekh Nawawi Al-Bantani mampu melihat dan memperlihatkan Ka’bah tanpa sesuatu alatpun. Cara ini dilakukan oleh Syekh Nawawi ketika membetulkan arah kiblatnya Masjid Jami’ Pekojan Jakarta Kota.


1 Chaidar, Sejarah Syekh Nawawi Banten, Sarana Utama, Jakarta, Hlm. 29 – 30.
2 Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dilahirkan di Makkah Tahun 1232 H (1816 atau 1817 M.) silsilah nasab Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang disebutkan dalam Kitab Taj Al-A’ras menunjukkan bahwa beliau adalah keturunan Sayyid Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, tokoh fenomenal di dunia Islam yang dipandang wali terbesar sepanjang masa dan digelari Sulthan Al-Auliya’ (sultan para wali). Beliau pertama kali dididik oleh ayahandanya mempelajari dan menghafal Al-Qur’an serta kitab Matan dalam berbagai disiplin, kemudian belajar kepada Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyati Al-Azhari Asy-Syafi’i yang merupakan guru utamanya. Beliau dikenal kecerdasan dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu, pernah suatu ketika Syaikh Utsman berkata kepadanya. “Wahai Sayyid Ahmad, engkau insyaallah akan menjadi seperti pohon yang aku lihat dalam mimpiku yang ta’birnya adalah ilmu akan tersebar melalui dirimu selamanya, dan isyarat dari gurunya ini ternyata benar. Murid-murid beliau banyak menjadi ulama besar sepanjang masa, siapa yang tidak mengenal Sayyid Abu Bakar (Bakri) Syata’, pengarang kitab terpopuler di Pesantren Indonesia I’anah Ath-Thalibin, Habib Utsman bin Yahya, mufti Betawi yang hidup pada abad 19 yang terkenal dengan karya-karyanya, Habib Ahmad Betawi bin Abdullah Thalib Al-Attas yang makamnya di Pekalongan selalu diziarahi orang. Karya ilmiah beliau sangat banyak, diantaranya adalah Mukhtasar Jiddan, Tanbih Al-Ghafilin, As-Sirah An-Nabawiyah Al-Futuhat Al-Islamiyah, bahkan Alfiyyah, Ad-Durar As-Saniyyah fi Radd ‘ala Al-Wahhabiyyah, Fath Al-Jawad dan lain-lain.
3 www.ulamapenulis indonesia.com

Dua Nasehat Imam Asy-Syibli yang Bisa Kita Contoh


Syekh Nawawi Al Bantani

Syaikh Nawawi Al-Bantani berkata bahwasannya Imam Asy-Syibli pernah mengucapkan dua nasehat:

1) Jika ingin merasa hatimu tenang dan tenteram bersama Allah, janganlah engkau turuti hawa nafsumu

2) Jika engkau ingin dikasihi Allah maka kasihilah makhluk-Nya

Di dalam mimpinya, Imam Asy-Syibli mengalami kematian. Lalu, setelah kematiannya itu dia ditanya tentang keadaannya, dan beliau menjawab, “Allah SWT bertanya kepadaku, "Wahai hambaku, apakah kamu tahu apa sebab Aku mengampuni dosa-dosamu?", "Sebab amal salehku wahai Allah" "Bukan", "Sebab keikhlasan ibadahku wahai Allah", "Bukan", "Sebab haji, puasa dan shalatku wahai Allah", "Bukan"

Maka, aku bertanya, “Lantas, sebab apa wahai Tuhanku?" Allah SWT menjawab, ‘Ingatkah saat engkau berjalan di sebuah lorong, di Baghdad? Bukankah engkau menjumpai seekor anak kucing yang lemas dan kedinginan hingga dia meringkuk di sudut bangunan? dengan rasa sayang, kemudian engkau mengambilnya, meletakkannya dalam sebuah keranjang yang engkau bawa, dan melindunginya dari udara yang dingin?"

Aku menjawab, "Ya, Hamba ingat", Allah SWT berfirman, "Lantaran kasih sayangmu terhadap anak kucing itulah, Aku memberimu rahmat" (catatan Nasha’ihul-’Ibad)

JADWAL MINGGUAN MAJELIS NISA MAJELIS RASULULLAH SAW

JADWAL MINGGUAN MAJELIS NISA MAJELIS RASULULLAH SAW


SENIN
Dzikir Senin, mulai pk.09.30 s.d 12.00 wib
Dzikir salafunnashalihah yang rutin didawamkan setiap hari senin oleh wanita - wanita di Tarim, Hadramout.

SELASA
Hadroh Basaudan dan Pembahasan Kitab Akhlak (karangan AlHabib Umar bin Salim bin Hafidz) dimulai pk.15.30 s.d 17.00 wib
Pembacaan syair - syair pujian dan tawassul serta do'a terkabul hajat, karangan Syekh Ahmad Basaudan. Hadroh ini juga rutin didawamkan setiap hari selasa di kota Tarim, Hadramout.

RABU
Kursus Bahasa Arab dan Memperlancar Bacaan AlQur'an, dimulai pk.14.00 s.d 15.00 wib

KAMIS
Kursus Bahasa Arab dan Memperlancar Bacaan AlQur'an, dimulai pk.14.00 s.d 15.00 wib

JUM'AT
Hadroh Imam Bushiri dan Pembahasan Kitab Syamail (budi pekerti Nabi SAW), dimulai pk.15.30 s.d 17.00 wib

SABTU
Kursus Bahasa Arab dan Memperlancar Bacaan AlQur'an, dimulai pk.14.00 s.d 15.00 wib

MINGGU
Kursus Bahasa Arab dan Memperlancar Bacaan AlQur'an, dimulai pk.13.00 s.d 14.00 wib

MAJELIS NISA
Dimulai pk.14.30 s.d 16.30 wib
Pembacaan Maulid Addhiyaulami diiringi oleh tim hadroh nisa
Tausiah oleh Habib Zaky bin Syahab dengan pembahasan kitab "Adabul mufrad" karangan Imam Bukhari. Diakhiri dengan (rekaman) Dzikir Jalalah

Semua majelis diatas bertempat di Kediaman Almarhum Almaghfurlah AlHabib Munzir AlMusawa, Komplek Ligamas Indah Blok F5, Perdatam, Pancoran, Jakarta Selatan

Contact person: Fatimah Zahratunnisa (081298907617)


Sabtu, 19 April 2014

Hakekat Cinta Kepada Rosulullah



Semua orang berkata aku cinta Nabi SAW, tetapi sebenarnya kita tidak tahu apa itu hakekat cinta, ingin tahu bagaimana keadaan orang yang dimabuk cinta, dahulu ada wanita bernama laila, sebenarnya ia perempuan biasa saja tetapi sangat dicintai oleh si majnun, majnun mabuk cinta, hingga setiap kali ia melewati rumah kekasihnya laila, si majnun selalu tawaf mengelilingnya, menciumi tembok rumahnya, maka berkata orang orang yang melihatnya "Engkau gila, untuk apa kau tawaf dan menciumi tembok", maka berkata majnun "Bukanlah tembok, kayu, batu dan pasir yang kuciumi, tetapi kepada penghuni yang ada didalamnyalah semua ini tertuju"
Kemudian sekali waktu si majnun berjalan, dilihatnya seekor anjing, dikenalinya anjing tersebut maka ia hampiri, dipeluk lalu diciumi, kagetlah orang orang sekitar dan berkata "Engkau gila, itu anjing hewan najis", berkata majnun "Duhai, tidaklah aku menciumi anjing tersebut terkecuali aku telah melihatnya memasuki rumah kekasihku laila"

Hingga diceritakan bahwasannya, dahulu hiburan orang orang arab adalah keluar ramai ramai sambil menikmati keindahan bulan, si majnun pun melakukan hal yang sama, namun ada yang berbeda, ia tampak begitu asyik dan khusyu, maka berkata orang kepadanya "Wahai majnun mengapa engkau begitu khusyu memandangi bulan, bukankah itu bulan yang sama dengan yang kita pandang, memang apa kelebihannya?", berkata majnun "Aku hanya asyik menikmati dan memandangi bulan yang sama yang menerangi rumah kekasihku laila", begitulah keadaan orang yang dimabuk cinta, itulah keadaan orang yang dimabuk cinta kepada wanita.

Lalu bagaimana keadaan orang yang mabuk cinta kepada Rasulullah SAW, ketahuilah bahwa tiada manusia yang rasa cintanya kepada Rasulullah SAW melebihi Sayyidina Abubakar AsShiddiq, hingga dikatakan bahwasanya jika 1 helai bulu janggut yang dimilik Abubakar AsShiddiq dibagikan kepada seluruh penduduk bumi maka akan mabuklah mereka semua, karena apa? karena disetiap helai bulu yang dimilikinya terdapat rasa cinta yang dimiliki Sayyidina Abubakar AsShiddiq terhadap Rasulullah SAW

Juga dikisahkan bahwasannya AlHabib Ahmad bin Zain AlHabsyi penulis kitab Risalatul Jamiah, yang beliau jika melewati rumah gurunya yaitu Imam Abdullah bin Alwi AlHaddad, karena rasa luapan cintanya ia tawaf mengelilingi rumah gurunya sambil mengucap syair yang diucapkan oleh si majnun "Bukanlah tembok, kayu, batu dan pasir yang kuciumi, tetapi kepada penghuni yang ada didalamnyalah semua ini tertuju"

Maka berkatalah Guru Mulia kita Al Habib Umar bin Hafidh dalam maulidnya "Demi Allah tidaklah diperdengarkan nama sang kekasih pada orang yang mencintainya maka akan tersentak gembira dan hilanglah segala kesusahan. Dimanakah para pecinta yang mereka itu rela berkorban dengan nyawa dan meremehkan hal hal duniawi" (Al Habib Ahmad bin Jindan)

Jumat, 18 April 2014

Cerita Anak Kecil Yang Banyak Bersholawat Kepada Rosulullah




Imam Muhammad ibn Sulaiman Al Jazuli, seorang ulama yang masyhur di kalangan ahlussunah wal jama'ah, suatu ketika tengah berjalan-jalan di padang pasir. Ketika waktu shalat tiba, beliau berusaha mencari sumber air untuk berwudhu dan melepaskan dahaganya. Setelah beberapa saat menyusuri padang pasir, beliau menemukan sebuah sumur yang sangat dalam. Sumur itu masih menyimpan air, tapi sayang Imam Jazuli tak menemukan alat untuk mengambil air dari sumur.

Ketika beliau tengah kebingungan mencari alat untuk mengambil air, tiba-tiba beliau melihat seorang anak perempuan kecil menghampiri beliau dari tempat ketinggian. Anak kecil itu bertanya, "Siapakah anda, Tuan, mengapa anda berada di tempat yang sesunyi ini?"

Imam Jazuli lantas menjelaskan hal ihwal beliau dan kesulitan yang tengah menimpanya.

"Anda adalah laki-laki terpuji yang terkenal karena kesalehan Anda!" seru anak kecil itu. Anak kecil perempuan itu tampak kebingungan mencarikan alat untuk mengeluarkan air dari dalam sumur. Setelah agak lama mencari namun tak juga menemukan, si anak lalu mendekat ke bibir sumur dan meludah ke dalamnya.

Ajaib, air sumur tiba-tiba meluap sampai ke atas permukaan tanah!

Setelah minum dan merampungkan wudhu'nya, Imam Jazuli lantas berkata, "Wahai anak kecil, sungguh aku kagum kepadamu! Dengan amal apakah engkau dapat meraih kedudukan setinggi ini?"

Anak perempuan kecil itu menjawab, "Dengan memperbanyak membaca shalawat kepada orang yang apabila ia (Nabi Muhammad saw) berjalan di padang belantara, binatang-binatang buas akan mengibas-ngibaskan ekornya (menjadi jinak)."

Setelah mendengar penuturan anak kecil itu, Imam Al Jazuli lantas bersumpah untuk menyusun sebuah kitab yang membahas tentang shalawat untuk Nabi Muhammad saw. Kelak, setelah kitab tersebut selesai ditulisnya, kitab itu dinamainya Dalailul Khairat. Sebuah kitab yang masih terus dibaca hingga kini karena keberkahannya yang luarbiasa.

sumber: majelis maula `aidid

Wallahu`alam..


Pesan Dari Admin :

- Jangan Tinggalkan Sholat 5 Waktu
- Jangan Tinggalkan Membaca Al Qur'an Setiap Hari Walaupun 1 Ayat
- Perbanyak Sholawat kepada Rosulullah Shalallahu Alaihi Wasallam
- Berbaktilah Kepada Orang Tua
- Senyumlah Kepada Semua Orang

Kesetiaan Rasulullah Kepada Sahabat-Sahabatnya

Kesetiaan Rasulullah Kepada Sahabat-Sahabatnya

Oleh : Ad-Da`i Ilallah Habib Jindan

Kesetiaan Rasulullah saw, kepada sahabat sahabatnya. Setiap orang yang duduk bersama Nabi Muhammad saw. Masing masing mendapatkan porsi dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, mereka mendapatkan porsi dari senyuman nabi, dari akhlak nabi, dari perkataan nabi muhammad saw.

Sehingga para aulia dan ulama lainnya ketika menyebutkan tentang nabi muhammad shalallahu alaihi wasallam terhadap para sahabat, itu dikatakan bahwa rasulullah shalallahu alaihi wasallam memberikan porsi yang cukup kepada teman duduknya, tidak ada orang yang duduk bersama Rasulullah saw itu dibiarkan, tidak ada yang dicuekin oleh Rasulullah saw, semuanya di openin oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Sampai setiap orang yang pernah duduk bersama Rasulullah saw mengatakan ,“kayanya yang paling diperhatikan oleh Nabi adalah saya, kayanya orang paling disayang nabi adalah saya,” dan hal ini dikatakan oleh setiap orang yang duduk bersama Rasulullah saw.

Bahkan anak kecil, mereka mempunyai hubungan yang mendalam dengan Nabi Muhammad saw. Nabi setia dengan teman duduknya, sehingga dimajlisnya Rasulullah saw tidak ada keburukan yang diceritakan dari majlis tersebut. orang yang keluar dari situ menyebutkan hal yang buruk tidak ada,.

Sayyid alwi ibn abbas almaliki menyebutkan bahwa bukan tidak ada yang menyebutkan keburukan tetapi memang tidak ada keburukan dalam majlis Nabi muhammad saw. Tidak ada orang yang membicarakan orang dimajlis nabi, menceritakan keburukan orang lain tiddak terjadi dimajlis nabi, apabila ada yang melakukan hal itu maka distop oleh nabi muhammad saw. Dan diperbaiki akan nama nama tersebut oleh nabi muhammad saw.

Dan kesetiaan Nabi Muhammad saw, diakhir hayatnya beliau tetap memanggil “ummati, ummati “ nabi muhammad saw setia kepada umatnya.

Wallahu`alam


Pesan Dari Admin :
- Jangan Tinggalkan Sholat 5 Waktu
- Jangan Tinggalkan Membaca Al Qur'an Setiap Hari Walaupun 1 Ayat
- Perbanyak Sholawat kepada Rosulullah
shalallahu alaihi wasallam
- Berbaktilah Kepada Orang Tua
- Senyumlah Kepada Semua Orang