Maret 2014 ~ Jadwal Pengajian, Info Pengajian Terbaru, Ahlussunah Wal Jama'ah

Jadwal pengajian Habib Luthfi, Senin 2 Juni 2014

• Hari: Senin 2 Juni 2014 • Jam: 19.30 WIB-Selesai • Tempat: Lapangan STKIP Al-Mujahidin Cikarang Jl. Raya Pilar Sukatani Karangbahagia Bekasi.

Jadwal Habib Syech : Grobogan Bersholawat 27 Mei 2014

Selasa, 27 Mei 2014 STADION KRIDA BAKTI PURWODADI GROBOGAN

Al Habib Luthfi bin Ali bin Yahya

Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman

Jadwal Habib Syech : Lirboyo bersholawat 24 Mei 2014

Sabtu, 24 Mei 2014 Bertempat di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur

1 Syawal 1433 H

Sahabat adalah mereka yang mungkin tidak bersamamu ketika kau sukses, tetapi yakinlah mereka ada bersamamu saat kau terjatuh

Senin, 31 Maret 2014

Cara Ulama Dalam Memerangi Hawa Nafsu


Bagaimana ulama-ulama dalam memerangi hawa nafsunya, sehingga mereka bisa melepaskan pengaruh nafsunya. Memang tidak mudah. Seperti kita melihat jumlah wiridan atau bacaan yang banyak. Nafsu sangat mempengaruhi sekali; ingin cepat selesai, disisi lain bacaannya terlalu banyak dan panjang. Lalu bagaimana mengalahkan nafsu, dan bagaimana ingin dekat dengan sang khalik. Para ulama bisa mengatasi itu semua. Sehingga bisa menemukan dan bisa merasakan lezatnya taqarub pada Allah Swt. Saya sebutkan sepintas diantara gambaran kesalehan ulama kita. Seperti Habib Husain bin Thahir, -kita katakan ini tidak masuk akal, tetapi kalau kita kembalikan kepada Allah Swt tidak mustahil- satu hari satu malam beliau membaca 'la ilaha ilallah' 25.000, dan shalawat sehari 25.000 belum yang lain-lainnya. Ibadah mereka begitu hebatnya, tidak ada waktu terbuang sia-sia, coba kita muhasabah (introfeksi).


Setelah salat Subuh kita lebih mengutamakan jalan-jalan, daripada membaca al-Quran, walaupun satu atau dua ayat. Para ulama kita tidak begitu, setelah wiridan selesai baru jalan, jalan dirumahnya sendiri tidak keluar. Sampai menunggu isyraq, kemudian salat Isyraq, setelah Isyraq istrhat sebentar, bangun kemudian salat Dhuha, setelah salat Dhuha yang mengajar ya mengajar, ya mencari nafkah ya mencari nafkah. Dan mereka selalu menyambut datangnya waktu bukan diundang oleh waktu. Kalau kita kan selalu diundang terus menerus. Kalau para ulama begitu sudah masuk waktu salat, mereka dalam keadaan sudah mandi, pakai baju rapi dan siap menyambut panggilan Allah Swt. Bukan menghormati adzan, tetapi mau menyambut panggilan Allah Swt.

Oleh Al Habib Luthfi dalam Secercah Tinta: Jalinan Cinta Dengan Sang Pencipta.

Minggu, 30 Maret 2014

Akhlak Antar Ulama Yang Tua Dan Muda


Suatu ketika di musim panas tahun 2009, Habib Ali al-Jufri datang ke Damascus. Beliau memberikan pengajian selama 3 malam di Masjid Agung Bani Umayyah. Tak ayal lagi, para mahasiswa yang tahu berita itu beramai-ramai menuju ke masjid agung itu untuk mendengar nasehat dari sang habib. Itu pertamakali mereka lihat secara langsung Habib Ali al-Jufri.

Semua jamaah dengan khusyuk menyimak apa yang disampaikan oleh Habib Ali al-Jufri. Tiba-tiba dari kejauhan ada suara ramai: “Buka jalan… buka jalan…” Ternyata yang datang adalah guru mereka, Syaikh M. Said Ramadhan al-Buthi.

Melihat Syaikh al-Buthi tiba, Habib Ali al-Jufri pun diam dan turun dari mimbar. “Saya tidak akan berbicara apa-apa lagi kalau guru saya sudah tiba. Beliau lebih berhak berbicara di sini,” kata Habib Ali al-Jufri.

“Saya ke sini ingin mendengar tausiahmu, saya ingin mendapat berkah dari majelis ini, silakan kamu naik mimbar dan teruskan,” kata Syaikh al-Buthi.

Setelah mencium tangan Syaiikh al-Buthi, Habib Ali al-Jufri pun naik kembali ke atas mimbar. Dan Syaikh al-Buthi duduk di samping mimbar di atas kursi.

Lihat, akhlak ulama, saling menghormati antara mereka. Siapa sih Habib Ali al-Jufri dibanding Syaikh al-Buthi? Dari segi umur mereka saja jauh berbeda, mungkin seperti ayah dan anak, kalau tidak mau dikatakan kakek dengan cucu! Tapi Syaikh al-Buthi tahu kapasitas Habib Ali al-Jufri, makanya beliau datang.

Sebenarnya apa sih yang disampaikan Habib Ali al-Jufri, sampai Syaikh al-Buthi datang menghabiskan waktunya? Mungkin isi ceramahnya sudah puluhan tahun lalu dihafal oleh beliau, tapi bukan itu yang beliau cari. Belajarlah dari akhlak ulama, kawan. Rahimallah Syaikh al-Buthi wa amaddallah fi ‘umril Habib Ali al-Jufri. Aamiin. (Diolah darin tulisn Gus Saief Alemdar)

KH.AHMAD DAHLAN: Menelusuri Akidah Sang Pencerah



KH Ahmad Dahlan sebagai ulama, intelektual yang memiliki wawasan kebangsaan yang luar di anggab sebagai sang Mujaddid (pembaharu). Gagasan-gagasan KH Ahmad Dahlan di anggab oleh sebagian orang-orang Muhammadiyah sebagai sesuatu yang memberikan pencerahan, yaitu usaha kembali memurnikan ajaran islam. Sebab, akidah umat islam nusantara, khususnya tanah Jawa tidak sesuai dengan akidah, terkontaminasi dengan TBC (Tahayyul, Bidah, dan Khurafat). Inilah yang menjadi alasan kalangan pengikut Muhammadiyah, sehingga umat Islam nusantara perlu diluruskan.


Jika dikaji dan ditelurusi lebih dalam, ternyata akidah KH Ahmad Dahlan itu sama dengan keyakinan guru-gurunya, seperti Syekh Sholih Darat, Sayyed Abu Bakar Shata, Syekh Ahmad Khotib Minangkabawi. Apalagi, buku tulisan tangan Arab Pego KH Ahmad Dahlan juga mengisaratkan kalau beliau ber-akidah Al-Syairoh dan Maturidiyah. Begitu juga dengan karya-karya ulama klasik, seperti Syekh Sirajudin Abbas, juga juga mengisaratkan bahwa akidah dan madhab KH Ahmad Dahlan itu sama dengan guru-gurunya. Bahkan, madzhab fikih beliau juga jelas mengikuti Imam Syafii.


Apalagi kitab-kitab manuskprip (tulisan tangan KH Ahmad Dahlan) masih ada, dan bisa di baca hingga saat ini. Itu bisa menjadi bukti otentik, bahwa KH Ahmad Dahlan itu akidahnya Al-Syairoh dan Maturidiyah, sedangkan Madzhabnya mengikuti Imam Al-Syafii. Dengan begitu, anggapan bahwa akidahnya KH Ahmad Dahlan itu selaras dengan Syekh Abduh, Syekh Abdul Wahhab, Ibn Taimiyah, dan Ibn Qoyyim Al-Jaziyah bisa dipatahkan. semua itu terkesan di paksakan, agar supaya tersa berbeda dengan gerakan Nahdiyah (NU).

Jika KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) di anggap mengikuti pemikiran Abduh, yang menurut kajian Harun Nasution adalah ‘’neo-Mu’tazilah’’.[1] Anggapan ini salah kaprah, bahkan terkesan mengada-ngada, dalam istilah bahasa Arab disebut dengan Bidah Pemikiran Muhammadiyah. Arbiyah Lubis dalam disertasinya membuktikan, bahwa sepanjang persoalan teologi (akidah), Muhammadiyah tidaklah mengikuti Abduh sama sekali (Syafii Maarif:13). Lubis berkesimpulan bahwa tidak ada kesamaan di antara keduanya.


Muhammad Abduh bersifat rasional yang lebih dekat dengan Mu’tazilah, sedangkan teologi KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) bersifat tradisonal, lebih dekat dengan teologiAsy’ariyah.[2] Dengan demikian, antara Muhammadiyah dan Nahdhotul Ulama’ itu memiliki kesamaan di dalam masalah akidah (teologi).


Apalagi jika melihat beberapa kitab Himpunan Putusan Madjlis Tardjih Muhammadiyah, thn, 1968-1969. Dalam kitab tersebut, Madjlis Tardjih Muhammadiyah mengambil dan menukil salah nama ulama besar yang ber-teologi Asya’riyah, yaitu Syekh Abu Mansur Al-Bagdadi.[3] Dalam catatan Putusan Dewan Tardjih Muhammadiya di tulis:’’Berkata Abu Mansur Bagdadi di dalam kitab Al-Farqu baina Al-Firoq, muka (6).[4] Lebih lanjut lagi dijelaskan bahwa Nabi SAW mengatakan:’’sesungguhnya orang-orang Bani Israil itu telah telah berpecah belah menjadi 71 golongan, dan umatku nanti akan berpecah belah menjadi 72 golongan, kesemuanya itu dalam Neraka, kecuali satu golongan’’.[5]


Antara informasi yang berkembang dan realitas dalam tulisan KH Ahmad Dahlan tidak sesuai. Dengan demikian, ada orang-orang terntentu atau usaha secara tersembunyi yang di lakukan secara sengaja merubah ajaran KH Ahmad Dahlan serta tata cara ibadahnya (Madzhab). Tujuan utamanya ialah karena ada unsur politik, artinya jangan sampai antara KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asaary bersatu. Sebab, persatuan antara dua kekuatan islam yang besar itu bisa menjadikan Indonesia menggunakan syariat islam.


Dengan begitu, bagaimana supaya dua kekuatan Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah tetap terkesan berbeda dan bersembarangan akidah dan tata cara ibadahnya. Khususnya masalah amaliyah ubudiyah sehari-hari. Qunut, Dua Adzan Jumat, bacaan basamlah dalam surat Al-Fatihah, sholat Tarawih 20 rakaat, ziarah kubur, tahlilan, dan istighosahan. Padahal, KH Ahmad Dahlan melakukanya, sementara para pengikutnya justru menganggab itu semua bidah (mengada-ngada) alias tersesat.


Rupanya, golongan tertentu itu sengaja melesrtarikan peberbedaan itu, dengan tujuan agar supaya kedua kelompok it terus bertengkar dan selamanya bersebarangan. Sebab, jika kedua kelompok, antara Muhammadiyah (KH Ahmad Dahlan) dan KH Hasyim Asaary (Nahdhatul Ulama’) itu bersatu, maka kekuatan islam di negeri ini akan kuat dan tidak mungkin dikalahkan oleh kekuatan politik mana-pun. Sebisanya mungkin, antara gagasan KH Ahmad Dahlan dan Gagasan KH Hasyim Asaary terus menerus diangkat agar para pengikutnya semakin panas, kemudian saling bertikai (www.wisatahaji.com). Ringkasan dari naskah Membumikan Gagasan KH Ahmad Dahlan yang di Tulis oleh Abdul Adzim Irsad


[1] . Syafii Maarif. Dr. 2000. Hubungan Muhammadiyah dan Negara: Tinjauan Telogis. Yang di tulis dalam buku Rekontruksi Gerakan Muhammadiyah pada Era Multiperadaban (UII Press-Jokjakarta) hlm 13


[2] . Syafii Maarif. Dr. 2000. Hubungan Muhammadiyah dan Negara: Tinjauan Telogis. Yang di tulis dalam buku Rekontruksi Gerakan Muhammadiyah pada Era Multiperadaban (UII Press-Jokjakarta) hlm 13


[3] . Abu Mansur Abd Qahir bin Tahir Al-Baghdadi (m.429/1037). Beliau salah satu dari sekian ulama yang ber-teologi Al-Asyairah yang membela sunnah Rosulullah SAW atas serangan-serangan Mu’tazilah dan Syiah.


[4] . Himpunan Putusan Madjils Tardjih Muhammadiyah.1969. Ditanfidzkan dan diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muahammadiyah) hlm 21


[5] (HR Tirmidzi).

Sumber : https://www.facebook.com/notes/ahmed-azzimi/khahmad-dahlan-menelusuri-akidah-sang-pencerah/10152020674967543

Poin-Poin Penting Konferensi Ulama Internasional Di Situbondo 29-30 Maret 2014.

Konferensi Ulama Internasional 1

POIN-POIN PENTING KONFERENSI ULAMA INTERNASIONAL DI SITUBONDO

Acara konferensi Internasional yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan perayaan satu Abad Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, akan dilaksanakan selama dua hari muali tanggal 29-30 Maret 2014 M.

Acara konferensi internasional ini dibuka oleh Diktat Kementerian Agama RI, Dr. Machasin. Pada kesempatan itu juga di isi dengan sambutan yang disampaikan oleh Perwakilan Mentri Luar Negeri, Esti Adayani. Yang pertama, untuk tetap menjujung tinggi pilar Islam. Yang kedua, kerja sama untuk mempererat solidaritas.

Sedangkan di akhir dari pembukaan konferensi Internasional itu diselenggrakan Tahlilan singkat yang dipimpin oleh KH. Hariri, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Kemudian ditutup dengan doa oleh Syaikh Wahbah az-Zuhaili dan Syaikh Abdul Karim ad-Dibaghi.

A. Pesan Damai

KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh keempat Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, menyampaikan bahwa Konferensi Internasional yang mulai dilaksanakan pada hari Sabtu 29 Maret 2014 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo memiliki tujuan yang mulia. Konferensi yang dihadiri oleh para ulama dari penjuru dunia itu, membawa misi perdamaian dunia. Pesantren sebagai pusat peradaban Islam menawarkan perdamaian kepada negara Islam yang saat ini terbelenggu dalam konflik.

KH. Azaim Ibrahimy juga menyampaikan dalam sambutannya, sejarah Indonesia tidak akan lepas dari pesantren khususnya pesantern Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo yang terbukti oleh perjuangan para ulama yang dilaksanakan malalui pesantren. Sejarah perjuangan ulama dan pesantren jangan sampai terlepas dari catatan sejarah, dan seratus tahun Pondok Pesantren Sukorejo telah dilalui oleh para pendiri dan pengasuh dalam menyumbangkan pemikiran serta perjuangan mereka melalui pesantren untuk bangsa dan ummat.

Pada konferensi internasional itu juga menghadirkan para ulama dan pemikir Islam dari negara konflik, seperti Syria, Mesir dan Libya. Ulama-ulama itulah nanti yang akan menggambarkan secara utuh keadaan negara Islam yang saat ini sedang mengalami konflik.

Sedangkan Sekjen ICIS dan mantan Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Hasyim Muzadi, menyampaikan bahwa sudah saatnya agama dan negara saling bersinergi. Negara melindungi agama, dan agama mensuport negara.

Ulama-ulama Timur Tengah yang hadir dalam acara itu antara lain:
1. Syaikh Wahbah az-Zuhaili (Syria)
2. Syaikh Abdul Karim ad-Dibbaghi (Aljazair)
3. Syaikh Mahdi bin Ahmad as-Shumaidai (Mufti Irak)
4. Syaikh Amr Syakir (Irak)
5. Syaikh Muhammad Jabr al-Mannai (Qatar)
6. Syaikh Khalid Shahin al-Ghanim (Qatar)
7. Syaikh Hammad Jasm Nashir (Iraq)
8. Syaikh Mundzir Ismail Dakhil (Iraq)
9. Syaikh Ismail Sulaiman (Irak)

B. Kenalkan Pancasila

KH. Hasyim Muzadi juga menyampaikan dan membeberkan serta mengenalkan para ulama internasional soal Pancasila, yang menjadi dasar negara Indonesia. “Di Pondok Pesantren inilah, NU pertama kali mengakui Pancasila sebagai dasar negara. Saat itu, di pesantren ini digelar Muktamar NU pada tahun 1984,” ucap beliau.

Sekretaris Jenderal Konferensi, KH. Hasyim Muzadi, juga mengatakan bahwa radikalisme dan terorisme harus dilawan karena bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ia pun mengkritik cara pemerintah yang hanya mengutamakan menangkap para teroris. Sementara deradikalisasi dinomorduakan. “Saat ini perlu disambungkan pemikiran moderat itu untuk seluruh dunia bukan hanya di Indonesia, karena Negara-negara Islam ini juga banyak terkena penyakit radikalisme dan terorisme sehingga membuat perpecahan di kalangan negara Islam itu sendiri. Yang aktual kan begini, sebenarnya radikalisme dan terorisme itu baru ada di Indonesia 12 tahun belakangan ini. Sebelumnya gak pernah ada,” kata KH. Hasyim Muzdi.

C. Tentang Gerakan Khilafah Islam

Saat ditanya perihal keharusan mendirikan khilafah Islam dan negara Islam oleh akademisi STAI Sunan Drajat Lamongan, Lujeng Luthfiyah, Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjawab bahwa upaya pendirian khilafah Islam dan negara Islam hanya didengungkan oleh mereka yang tidak mengerti Islam. Gerakan ini kerap memicu kekerasan dan konflik di tengah umat. Gerakan ini hanya didukung oleh kelompok ekstremis. Upaya pendirian khilafah Islam lahirkan banyak teroris.

Indikasi Islam ekstrem adalah kelompok yang meyakini dirinya sebagai satu-satunya kebenaran. Meyakini cara yang ia tempuh sebagai agama, bukan lagi sekedar teori pemahaman. Sementara nilai-nilai yang harus dipedomani umat Islam adalah nilai-nilai moderat al-Quran dan keislaman, bukan nilai-nilai kemanusiaan murni. Karena, nilai kemanusiaan murni hanya lahir dan dibawa oleh misi dari sisa-sisa Perang Salib.

D. Waspadai Disintegrasi Bangsa

Konferensi Ulama Internasional di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, meminta pemerintah Indonesia mewaspadai dan menindak tegas siapa saja yang melakukan upaya-upaya disintegrasi bangsa.


KH. Lutfi Bashori yang didaulat membacakan hasil rekomendasi diskusi hari pertama konferensi, mengemukakan bahwa para ulama dari berbagai negara menyepakati agar mewaspadai berbagai faham dan gerakan yang jauh dari Islam moderat. Umat Islam juga harus mewaspadai faham maupun gerakan yang jauh dari ajaran Islam yang ramah. Kelompok ini sebagai kalangan ekstrem yang sering menggunakan kekerasan dalam menyampaikan pendapat dan gagasan.

Selain pemerintah, umat Islam juga diharapkan mewaspadai aliran-aliran lain yang cenderung ekstrem karena akan mencederai Islam yang “rahmatan lil ‘alamin” (menjadi rahmat bagi seluruh alam). Para ulama menyepakati agar umat Islam tidak tergoda dengan pandangan Barat yang mengusung liberalisme sehingga cenderung mencampuradukkan ajaran dan pesan agama. Kami sepakat dan kukuh dengan pandangan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan juga seperti pandangan dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah ini yang membawa Islam yang ramah. Apa yang telah disampaikan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari sebagai manifestasi dari Islam yang dulunya dibawa oleh Walisongo.

E. Ulama-ulama Dunia Doakan Indonesia Menjadi Lebih Baik

Para ulama sedunia dalam konferensi internasional bertema “Konsolidasi Jaringan Ulama Intenasional Meneguhkan Kembali Nilai-nilai Islam Moderat” itu mendoakan masa depan Indonesia yang tengah bersiap hadapi pemilu legislatif pada 9 April dan pemilihan presiden pada Juli 2014. Mereka berharap agar pemilu di Indonesia berlangsung damai dan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa Indonesia lebih baik. Tampil yang memimpin doa pada acara tersebut adalah Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily (Syria), Syaikh Mahdi as-Shumaidai (Irak) dan Syaikh Abdul Karim ad-Dibaghi (Aljazair).

Konferensi ulama tingkat dunia itu diprakarsai mantan Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi. Dalam jadwal, kegiatan tersebut digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu ini. Terlihat, ratusan ulama dan kiai hadir sebagai peserta dalam konferensi ini. KH. Hasyim Muzadi menegaskan, konferensi tersebut membahas banyak hal terkait masalah dalam negeri dan luar negeri. Untuk dalam negeri, terkait perang di sejumlah negara Timur Tengah dan kondisi Indonesia pasca reformasi. Beliau berharap konferensi itu menghasilkan konsep perdamaian di berbagai belahan dunia.

F. 9 Rekomendasi Terkait Islam Moderat

Perhelatan Konferensi Internasional Ulama dan Cendekiawan Muslim yang berlangsung di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo (P2S3) ditutup hari Ahad 30 Maret 2013. Ada 9 butir persoalan yang menjadi titik tekan pada kegiatan tersebut. Dan KH. Cholil Navis yang didaulat membacakan hasil rekomendasi:

1. Yang dimaksud dengan moderasi adalah suatu kebenaran di antara dua kebathilan, dan suatu kebaikan di antara dua keburukan. Sikap moderrasi dimaksud untuk bisa dilakukan oleh setiap individu dalam pemikiran, akhlak dan perilaku serta segala tindakannya guna melestarikan kebaikan individu maupun kelompok masyarakat, dengan tanpa adanya radikalisme dan liberalisme. Moderasi di sini juga diartikan menyepakati segala nas dalil dan sendi-sendi agama yang sudah qath’i (pasti) dan mentolerir nas dalil yang debatable atau mukhtalaf fih.

2. Moderasi pemikiran yaitu suatu ide yang meyakini puritansi nas-nas agama dalam satu sisi, serta meyakini adanya korelasi nas suci dengan keadaan waktu dan tempat.

3. Menyikapi moderasi dalam upaya penerapan syariah. Yaitu menjauhkan sikap kekerasan dan berlebihan.

4. Moderasi dalam toleransi. Yaitu memaklumi dan mentolerir adanya eksistensi agama-agama lain dalam suatu negara. Sebab, multi agama dalam kehidupan adalah sunnatullah atau keniscayaan.

5. Moderasi dalam berpolitik. Dalam hal ini penguatan terhadap teori demokrasi dan hak asasi manusia. Islam tidak hanya mengajarkan demokrasi dan hak asasi manusia, tetapi sebuah konsep yang universal, dengan menghargai sikap demokrasi dengan konsep syuro dan menempatkan kedudukan manusia dan hak-haknya pada tempat yang hakiki.

6. Moderasi di dalam pendidikan dan pengajaran. Yakni peningkatan bagi umat Islam dari semua disiplin ilmu.

7. Moderasi dalam ekonomi, dengan menyajikan alternatif pengkatan kesejahteraan bagi umat Islam dengan sistem ekonomi yang sesuai syariah. Agama Islam selalu mendorong pemeluknya untuk memperkuat ketahanan ekonomi untuk menegakkan agama. Namun kenyataan kebanyakan umat Islam berada dalam kemiskinan yang hanya sebagai penerima zakat bukan pemberi zakat.

8. Moderasi dalam tradisi dan budaya. Yaitu menyebarkan pemikiran moderat dengan sikap toleran.

9. Rekomendasi ini ditujukan kepada para ulama, cendekiawan dan para pejabat pemerintahan untuk melaksanakan keputusan ini dan menjaga jaringan antar ulama dan cendekiawan muslim dalam mengaplikasikan poin-poin kenferensi tersebut.

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 30 Maret 2014.

  
Konferensi Ulama Internasional 2

Konferensi Ulama Internasional 3

Konferensi Ulama Internasional 4

Konferensi Ulama Internasional 5

Konferensi Ulama Internasional 6

Konferensi Ulama Internasional 7

Konferensi Ulama Internasional 8

Konferensi Ulama Internasional 9

Konferensi Ulama Internasional 10

Konferensi Ulama Internasional 11

Konferensi Ulama Internasional 12

Konferensi Ulama Internasional 13

Konferensi Ulama Internasional 14

Konferensi Ulama Internasional

Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji’un, Telah Wafat Macan Bekasi KH. Asymawi Madali

KH. Asymawi Madali

Kami turut berduka atas meninggalnya guru kita semua, murabbi arwahina KH. Asymawi Madali yang meninggal tadi malam, 30 Maret 2014, pukul 20.10 WIB di Harapan Jaya Bekasi Utara-Bekasi. Meninggal pada usia 97 tahun.

Beliau adalah murid terakhir yang meninggal dari KH. Noer Ali, KH. Mukhtar Thabrani dan KH. Muhajirin Amsar Addari. Tiga kyai ini dikenal dengan sebutan “3 Macan Bekasi”. Beliau salah satu kyai yang pernah dikunjungi Gus Dur pada tahun 2002 silam. Andai dulu sempat mondok di Tebuireng, mungkin jadi salah satu santri Mbah KH. Hasyim Asy’ari yang masih hidup. Namun karena kondisi Bekasi saat itu yang keras akan penjajahan membuatnya tidak bisa ke mana-mana.

KH. Shodiqin Akhyar pernah berkata bahwa beliau adalah kyai yang sangat ikhlas. Tidak berkenan masuk partai, bahkan masuk jajaran pengurus struktural NU pun tidak mau meskipuin beliau NU tulen, fanatik Mbah Hasyim Asy’ari dan Gus Dur. Hanya mau berjuang untuk NU di tataran masyarakat bawah saja. Ditawarkan pun tidak pernah mau. Beliau mau membela NU mati-matian untuk masyarakat langsung tanpa harus menjadi struktural NU.

Insya Allah jenazah akan dimakamkan siang ini ba’da Dzuhur. (Sumber info: Gus Mu’tashim Billah, santri dan khuwaidim PP Tebuireng 2004-sekarang).

Mohon hadiah surat al-Fatihah untuk beliau. Lahu al-Fatihah…

Kamis, 27 Maret 2014

Ringkasan Kitab Safinah (Bag.II): Rukun Iman, Syahadat dan Tanda-Tanda Akil Baligh

Rukun Iman, Syahadat dan Tanda-Tanda Akil Baligh

RUKUN IMAN
Arkaanul Iimaani Sittatun: An Tu’mina Billaahi, Wa Malaaikatihii, Wa Kutubihii, Wa Rusulihii, Walyaumil Aakhiri, Wabilqodari Khoyrihi Wasyarrihi Minalaahi Ta’aalaa.

Rukun-rukun Iman yaitu 6 :
1.      Iman Kepada Allah
2.      Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah
3.      Iman Kepada Kitab-kitab Allah
4.      Iman Kepada Rosul-rosul Allah
5.      Iman Kepada Hari Kiamat
6.      Iman Kepada Qodo dan Qodar

Pertama, iman kepada Allah. Mengimani bahwa Allah adalah Tuhan seluruh makhluk di alam semesta ini. Dengan merenungi segala macam ciptaan dan makhluk sebagai kreasi Tuhan, maka kita akan semakin kuat imannya bahwa tidak mungkin alam semesta ini ada dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakannya yaitu Allah. Kita tidak boleh menyamakan atau menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, Ia tak berjasad, tak bertempat, tak beranak dan tak diperanakkan, tak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Kedua, iman kepada para malaikat. Meyakini bahwa malaikat adalah hamba Allah yang paling taat. Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dari unsur cahaya yang teramat lembut, tidak memiliki jenis kelaim laki-laki atau perempuan maupun banci, tidak berayah atau beribu, tak beranak. Dan malaikat merupakan makhluk yang diciptakan untuk membawa misi perintah Allah dengan segala jenis perintah dan pekerjaannya. Jumlahnya tak terhitung, bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa malaikat ada 24.523 malaikat, dan malaikat yang wajib diketahui ada sepuluh, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, ‘Izrail, Munkar, Nakir, Ridlwan, Malik, Raqib, ‘Athid, Rumah. Dan di antara malaikat yang paling utama adalah Jibril yang bertugas membawa wahyu Tuhan.

Ketiga, iman kepada utusan-Nya (Rosul/Nabi). Mengimani mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda kenabiannya. Dan meyakini bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan nabi terakhir.

Keempat, iman kepada kitab suci. Ada empat kitab suci Allah yang diturunkan kepada utusan-Nya, yaitu Taurat pada Nabi Musa, Zabur pada Nabi Dawud, Injil bagi Isa, dan al-Quran bagi Nabi Muhammad. Empat kitab inilah yang wajib diyakini. Namun sejatinya kitab Allah tidak terbatas. Bahkan para nabi-nabi yang lain seperti Adam, Idris, Nuh, dan lain-lain pun memiliki kitab suci.

Kelima, iman kepada hari akhir. Meyakini adanya hari akhir dengan segala kejadian yang ada di dalamnya yaitu hasyr (digiring dan dikumpulkannya makhluk) di makhsyar, adanya hisab (kalkulasi amal), balasan amal (jaza’), surga dan neraka.

Keenam, iman kepada takdir.  Baik atau buruknya takdir adalah dari Allah. Namun manusia berhak memilih dan diberi kesempatan untuk berikhtiar. Wajib ridha atas apa yang telah digariskan dan ditetapkan dalam takdir kehidupan. Tidak boleh marah, dan harus dapatnrimo ing pandum.

MAKNA SYAHADAT
Makna Syahadat Tauhid:
Tidak ada Tuhan yang berhak, layak, dan pantas untuk disembah dan ditaati perintah dan dijauhi larangan-Nya kecuali Allah.

TANDA - TANDA BALIGH

Alaamaatul Buluughi Tsalaatsun: Tamaamu Khomsa ‘Asyaro Sanatan Fidzdzakari Wal Untsaa , Wal Ihtilaamu Fidzdzakari Wal Untsaa Litis’i Siniina, Wal Haidhu Fil Untsaa Litis’i Siniina.
Tanda-tanda Baligh yaitu 3: Sempurna umurnya 15 tahun pada laki-laki dan perempuan, dan mimpi pada laki-laki dan perempuan bagi umur 9 tahun dan dapat haid pada perempuan bagi umur 9 tahun.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah

      Tanda Aqil Baligh laki-laki dan perempuan
Laki-laki yang menginjak dewasa, ditandai dengan bermimpi peristiwa yang tidak pernah dialaminya di alam nyata, seperti bersenggama dengan seorang perempuan dan dengan sebab mimpi indah tersebut mengakibatkan keluarnya sperma yang sejak kecil tersimpannya. Dan biasanya laki-laki yang mengalami peristiwa tersebut pada usianya yang ke-15 tahun. Jika laki-laki yang sudah berusia 15 tahun dan sudah mengeluarkan sperma (mani) maka ia termasuk laki-laki dewasa yang sudah aqil baligh dan mukallaf, yaitu seseorang yang wajib menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.

Sedangkan perempuan yang sudah mengeluarkan darah haidl biasanya keluar pada umur 9 tahun sudah termasuk perempuan dewasa yang sudah aqil baligh dan mukallaf. Darah haidl adalah darah yang keluar dari vagina perempuan pada usia 9 tahun ke atas, dalam kondisi sehat, tidak dengan sebab sakit, dan tidak dengan sebab melahirkan. Warna darah haidl adalah hitam pekat dan panas. Sebab jika darah tersebut keluar dengan sebab sakit maka bukan lagi darah haidl melainkan darah istihadhal; sedangkan jika dengan sebab melahirkan maka dinamakan darah nifas.

Ringkasan Kitab Safina Jilid 1

PENJELASAN TENTANG PENULIS DAN ISI KITAB

Penulis kitab Safinah adalah seorang ulama besar yang sangat terkemuka yaitu Syekh Salim bin Abdullah bin Sa'ad bin SumairAl-Hadhrami. Beliau adalah seorang ahli fiqh dan tasawwuf yang bermadzhab Syafi'i. Selain itu, beliau adalah seorang pendidik yang dikenal sangat ikhlas dan penyabar, seorang qodhi yang adil dan zuhud kepada dunia, bahkan beliav juga seorang politikus dan pengamat militer negara­negara Islam. Beliau dilahirkan di desa Dziasbuh, yaitu sebuah desa di daerah Hadramaut Yaman, yang dikenal sebagai pusat lahirnya para ulama besar dalam berbagai bidang ilmu ke­agamaan.

Sebagaimana para ulama besar lainnya, Syekh Salim me­mulai pendidikannya dengan bidang Al-Qur'an di bawah peng­awasan ayahandanya yang juga merupakan ulama besar, yaitu Syekh Abdullah bin Sa'ad bin Sumair. Dalam waktu yang singkat Syekh Salim mampu menyelesaikan belajarnya dalam bidang Al-Qur'an tersebut, bahkan beliau meraih basil yang baik dan prestasi yang tinggi. Beliau juga mempelajari bidang­bidang lainnya seperti halnya ilmu bahasa arab, ilmu fiqih, ilmu ushul, ilmu tafsir, ilmu tasawuf, dan ilmu taktik militer Islam. Ilmu-ilmu tersebut beliau pelajari dari para ulama besar yang sangat terkemuka pada abad ke-13 H di daerah Hadhramaut, Yaman. Tercatat di antara nama-nama gurunya adalah:
1.             Syekh Abdullah bin Sa'ad bin Sumair
2.             Syekh Abdullah bin Ahmad Basudan

Kitab Safinah memiliki nama lengkap "Safinatun Najah Fiima Yajibu `ala Abdi Ii Maulah" (perahu keselamatan di dalam mempelajari kewajiban seorang hamba kepada Tu­hannya). Kitab ini walaupun kecil bentuknya akan tetapi sa­ngatlah besar manfaatnya. Di setiap kampung, kota dan negara hampir semua orang mempelajari dan bahkan menghafalkan­nya, baik secara individu maupun kolektif.
Di berbagai negara, kitab ini dapat diperoleh dengan mudah di berbagai lembaga pendidikan. Karena baik para santri maupun para ulama sangatlah gemar mempelajarinya dengan teliti dan seksama.Hal ini terjadi karena beberapa faktor, di antaranya:Kitab ini mencakup pokok-pokok agama secara ter­padu, lengkap dan utuh, dimulai dengan bab dasar­dasar syari'at, kemudian bab bersuci, bab shalat, bab zakat, bab puasa dan bab haji yang ditambahkan oleh para ulama lainnya. Kitab ini disajikan dengan bahasa yang mudah, susunan yang ringan dan redaksi yang gampang untuk dipahami serta dihafal. Seseorang yang serius dan memiliki ke­mauan tinggi akan mampu menghafalkan seluruh isinya hanya dalam masa dua atau tiga bulan atau mungkin lebih cepat.


BAB RUKUN ISLAM

Arkaanul Islaami Khomsatun: Syahaadatu An Laa Ilaaha Illallaahu Wa Annna MuhammadanRosuulullaahi, Wa Iqoomushsholaati, Wa Iitaauzzakaati, Wa Shoumu Romadhoona, Wa Hijjul Baiti Man Istathoo’a Ilaihi Sabiilan.

Rukun-rukun Islam yaitu 5: Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, dan Mendirikan Sholat dan Memberikan Zakat, dan Puasa Bulan Romadhon dan Pergi Haji bagi yg mampu kepadanya berjalan.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah

Pertama, Kedua kalimat Syahadat yang menyatakan bahwa seseorang telah mempercayai dua hal, yaitu iman dan percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul (utusan-Nya). Persaksian ini merupakan komitmen keimanan seseorang yang tidak sebatas ikrar dan retorika an sich, namun diwujudkan dalam ranah amaliyah-aplikasi religiuitasnya. Sebuah ikrar dan persaksian mengandung konsekuensi tersendiri, yaitu berupa ketaatan dan kepatuhan terhadap segenap doktrin Allah dan utusan-Nya. Keduanya diistilahkan dengan Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul. Allah dan rasul-Nya tidak bisa dipisahkan, sebab rasul-Nya lah yang menyampaikan pesan-pesan dan ajaran-ajaran langit yang turun dari Allah. Dan setiap orang Islam wajib mempercayai segenal ajaran yang dibawa oleh rasul-Nya.

Apakah persaksian tersebut harus diikrarkan atau dilafadzkan melalui lisan dan diyakini dengan hati? Atau persaksian itu cukup diyakini dengan hati, tanpa dilafadzkan dengan lisan? Para ulama tauhid berbeda pendapat. Pendapat pertama, seseorang yang meyakini dan menanamkan keimanan di dalam hati tanpa mengikrarkan dengan lisannya serta dalam kondisi normal, yaitu lisannya dapat berkata dan melafadzkan kata-kata, maka orang tersebut tetap tidak bisa dikatakan orang Islam alias masih kafir. Sedangkan urusan dia dihadapan Allah adalah hak perogratif yang tidak bisa dihukumi.

Pendapat yang kedua, yang diungkapkan sebagian besar ulama dan Imam Abu Manshur al-Maturidi menyatakan bahwa orang tersebut termasuk orang Mukmin dan Islam. Sebab pengucapan Syahadat sebagai persaksian dengan lisan hanya untuk memenuhi persyaratan administrasi negara saja, sehingga dapat menikah, mendapatkan warisan dari keluarga atau orang tua yang Islam, dll, lantaran segenap hukum-hukum tersebut tidak dapat dijalankan kecuali setelah adanya ucapan persaksian, kejelasan dan iklan atau pemberitahuan pada pihak yang berwenang, seperti pemimpin negara, bupati, dll.

Pendapat kedua tersebut didukung oleh Imam al-Ghazali, Ibnu Rusydi dan Ibnu ‘Arafah. Sebagaimana Ibnu Rusydi mengatakan bahwa “Karen Islamnya seseorang yang tertanam di dalam hati adalah keislaman yang hakiki. Jika ia mati sebelum sempat mengucapkan syahadat sebagai persaksiannya, maka ia termasuk mati dalam keadaan mukmin”.

Pendapat ketiga yang diungkapan oleh kebanyakan ulama salaf, seperti Imam Abu Hanifah dan Imam as-Syafi’i menyakini bahwa orang tersebut di hadapan Allah belum dikatakan orang mukmin. Sebab pengucapan dan persaksian dengan ikrar lisan adalah sebagian dari iman atau rukum iman, atau salah satu syarat sahnya iman di dalam hati.

Sementara jika seseorang yang lidahnya tidak memungkinkan mengucapkan atau mengikrarkan seperti karena bisu (gebu) atau karena mendadak mati, maka ulama telah bersepakan bahwa orang tersebut tidak diwajibkan atau gugur kewajiban untuk melafadzkan dan mengikrarkan persaksian syahadat dengan lisan.

Kedua, menjalankan shalat. Yang dimaksudkan adalah shalat lima waktu, dzuhur, asar, maghrib, isya dan subuh. Shalat selain dari yang lima waktu adalah sunnah.

Ketiga, mengeluarkan zakat. Yaitu mengeluarkan zakat yang telah ditentukan oleh syarikat berupa harta, yaitu Onta, Kambing, Sapi, Emas, Perak, Kurma, Beras, dan anggur, yang harus dibagikan pada delapan kelompok yang berhak menerima zakat, yaitu kelompok fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharim (orang yang punya hutang), sabilillah, dan anak jalanan.

Keempat, mengerjakan puasa di bulan Ramadlan. Ada tiga tingkatan puasa, pertama, puasa orang awam, yaitu mengosongkan perut dari makan dan minum dan mencegah kelamin; kedua, puasa orang khusus, yaitu selain yang dikerjakan orang awam, juga mencegah seluruh anggauta badan dari pekerjaan dosa; ketiga, puasanya orang yang elite (khawash al-khawash), yaitu dengan memalingkan hati dari aktivitas yang rendah dan mengekang hatinya dari selain Allah.

Kelima, naik haji bagi yang mampu secara finansial berupa ketersediaan sangu/bekal untuk dirinya maupun nafkah untuk keluarganya.

Rabu, 26 Maret 2014

Manaqib Sulthanul Auliya Sayyidi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani R.A.




Disadur dari Kitab Mawa’idz Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Karya Syaikh Shalih Ahmad Asy-Syami


Sewaktu kecil , ada malaikat yang selalu datang kepadaku setiap hari dalam rupa pemuda tampan. Ia menemaniku ketika aku berjalan menuju madrasah dan membuat teman-temanku selalu mengutamakan diriku seharian hingga aku pulang. Dalam sehari, aku peroleh lebih banyak daripada yang diperoleh teman-teman sebayaku selama satu minggu.

Aku tak tak pernah mengenali pemuda itu. Di saat yang lain, ketika aku bertanya kepadanya, ia menjawab: “Aku adalah malaikat yang diutus Allah. Dia mengutusku untuk melindungimu selama engkau belajar.”

Itulah sepenggal kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tentang pengalamannya pada masa kecil.

Kelahiran Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Beliau lahir pada tahun 470 H. (1077-1078 M) di al-Jil (disebut juga Jailan dan Kilan), kini termasuk wilayah Iran. Tahun kelahirannya ini didasarkan atas ucapannya kepada putranya bahwa ia berusia 18 tahun ketika tiba di Baghdad, bertepatan dengan wafatnya seorang ulama terkenal , at-Tamimi, pada tahun 488 H.

Tahun itu juga bertepatan dengan keputusan Imam Abu Hamid al-Ghazali untuk meninggalkan tugasnya mengajar di Universitas Nidzamiah, Baghdad. Sang imam ternyata lebih memilih uzlah.


Penentuan Awal Ramadhan Melalui Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani saat Balitanya

Ibunya, Ummul Khair Fatimah binti Syaikh Abdullah Sumi, adalah keturunan Rasulullah Saw. Beliau pernah menuturkan: “Anakku , Abdul Qadir , lahir di bulan Ramadhan. Pada siang hari bulan Ramadhan, bayiku itu tak pernah mau diberi makan.”

Dikisahkan pada suatu Ramadhan ketika Abdul Qadir masih bayi, orang-orang tak dapat melihat hilal karena tertutup awan. Akhirnya untuk menentukan awal puasa, mereka mendatangi rumah Ummul Khair dan menanyakan apakah bayinya sudah makan hari itu. Saat mengetahui bayi itu tak mau makan, mereka yakin bahwa Ramadhan telah tiba.

Dalam kesempatan lain Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bercerita: “Setiap kali terlintas keinginan untuk bermain bersama teman-temanku, aku selalu mendengar bisikan: “Jangan bermain, tetapi datanglah kepadaku wahai hamba yang dirahmati.” Karena takut, aku berlari ke dalam pelukan ibu. Kini, meskipun aku beribadah dan berkhalwat dengan khusyuk, aku tak pernah bisa mendengar suara itu sejelas dulu.”

Tauladan Kejujuran Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Ketika ditanya mengenai apa yang menghantarkannya kepada maqam ruhani yang tinggi, beliau menjawab: “Kejujuran yang pernah kujanjikan kepada ibuku.” Kemudian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menuturkan kisah berikut:

“Pada suatu pagi di hari raya Idul Adha, aku pergi ke ladang untuk membantu bertani. Ketika berjalan di belakang keledai, tiba-tiba hewan itu menoleh dan memandangku, lalu berkata: “Kau tercipta bukan untuk hal semacam ini.” Mendengar hewan itu berkata-kata, aku sangat ketakutan. Aku segera berlari pulang dan naik ke atap rumah. Ketika memandang ke depan, kulihat dengan jelas para jamaah haji sedang wukuf di Arafah.

Kudatangi ibuku dan memohon kepadanya: “Izinkanlah aku menempuh jalan kebenaran, biarkan aku pergi mencari ilmu bersama para bijak bestari dan orang-orang yang dekat dengan allah.”

Ketika ibuku menanyakan alasan keinginanku yang tiba-tiba, kuceritakan apa yang terjadi. Mendengar penuturanku, ia menangis dengan sedih. Namun, ia keluarkan delapan puluh keping emas, harta satu-satunya warisan ayahku. Ia sisihkan empat puluh keping untuk saudaraku. Empat puluh keping lainnya dijahitkannya di bagian lengan mantelku. Ia memberiku izin untuk pergi seraya berwasiat agar aku selalu bersikap jujur apapun yang terjadi.

Sebelum berpisah ibuku berkata: “Anakku, semoga Allah menjaga dan membimbingmu. Aku ikhlas melepas buah hatiku karena Allah. Aku sadar aku takkan bertemu lagi denganmu hingga hari kiamat.”

Aku ikut kafilah kecil menuju Baghdad. Baru saja meninggalkan kota Hamadan, sekelompok perampok, yang terdiri atas enam puluh orang berkuda, menghadang kami. Mereka merampas semua anggota kafilah. Salah seorang perampok mendekatiku dan bertanya: “Anak muda apa yang kau miliki?” Kukatakan bahwa aku punya empat puluh keping emas.

Ia bertanya lagi: “Di mana?” Kukatakan di bawah ketiakku.

Ia tertawa-tawa dan pergi meninggalkanku. Perampok lainnya menghampiriku dan menanyakan hal yang sama. Aku menjawab sejujurnya. Tetapi seperti kawannya, ia pun pergi sambil tertawa-tawa mengejek.

Kedua perampok itu mungkin melaporkanku kepada pimpinannya, karena tak lama kemudian pimpinan gerombolan itu memanggilku agar mendekati mereka yang sedang membagi-bagi hasil rampokan. Si pimpinan bertanya apakah aku memiliki harta. Kujawab bahwa aku punya empat puluh keping emas yang dijahitkan di bagian lengan mantelku.

Akhirnya ia menyobeknya dan ia temukan keping-keping emas itu. Keheranan, ia bertanya: “Mengapa engkau meberi tahu kami, padahal hartamu itu aman tersembunyi?”

Jawabku: “Aku harus berkata jujur karena telah berjanji kepada ibuku untuk selalu bersikap jujur.”

Mendengar jawabanku, pimpinan perampok itu tersungkur menangis. Ia berkata: “Aku ingat janjiku kepada Dia yang telah menciptakanku. Selama ini aku telah merampas harta orang dan membunuh. Betapa besar bencana yang akan menimpaku!?”

Anak buahnya yang menyaksikan kejadian itu berkata: “Kau memimpin kami dalam dosa. Kini, pimpinlah kami dalam taubat!”

Keenam puluh orang itu memegang tanganku dan bertaubat. Mereka adalah sekelompok pertama yang memegang tanganku dan mendapat ampunan atas dosa-dosa mereka.

Perjumpaan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dengan Nabi Khidhir di Baghdad

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berusia delapan belas tahun ketika tiba di Baghdad. Saat tiba di gerbang kota, Nabi Khidhir muncul dan melarangnya memasuki kota. Nabi Khidhir mengatakan bahwa Allah melarangnya memasuki kota itu selama enam tahun. Kemudian Nabi Khidhir membawanya ke sebuah bangunan tua dan berkata: “Tinggallah di sini dan jangan pergi meninggalkan tempat ini.”

Akhirnya beliau menetap di sana selama tiga tahun. Setiap tahun Nabi Khidhir datang dan memerintahkannya menetap di sana. Mengenai pengalamannya di tempat itu, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bercerita:

“Selama menetap di padang pasir di luar Bagdhad, semua yang kulihat hanyalah keindahan dunia. Semuanya menggodaku. Namun, Allah melindungiku dari godaannya. Setan, yang muncul dalam berbagai paras dan rupa, terus mendatangiku, menggoda, mengusik, bahkan menyerangku. Allah selalu menjadikanku sebagai pemenang.

Hawa nafsuku pun datang setiap hari dengan paras dan rupa diriku sendiri memohon agar aku sudi menjadi sahabatnya. Ketika kutolak, ia menyerangku. Allah menjadikanku sebagai pemenang dalam peperangan tanpa henti itu. Aku berhasil menjadikannya sebagai tawananku selama bertahun-tahun dan memaksanya tinggal di bangunan tua di padang pasir itu.

Selama beberapa tahun aku hanya makan rerumputan dan akar-akaran yang dapat kutemukan. Selama itu pula aku tak pernah minum. Tahun berikutnya aku hanya minum tanpa makan apa-apa. Dan tahun berikutnya aku tak makan, tak minum, bahkan tak tidur. Aku tinggal di bangunan tua istana raja-raja Persia di Karkh.

Aku berjalan bertelanjang kaki di atas duri-duri padang pasir dan tak merasakan apa-apa. Aku terus berjalan. Setiap kali kulihat tebing, aku merasa mendakinya. Tak sedikitpun kuberikan kesempatan kepada hawa nafsuku untuk beristirahat atau merasa nyaman.

Pada akhir tahun ketujuh, pada suatu malam, aku mendengar satu suara menyeru: “Hai Abdul Qadir kini kau dapat memasuki Baghdad.”

Akhirnya kumasuki kota Baghdad dan tinggal beberapa hari. Namun, aku tak tahan menyaksikan kemaksiatan, kesesatan dan kelicikan yang merajalela di kota itu. Agar terhindar dari pengaruh buruknya, aku pergi meninggalkan Baghdad dengan hanya membawa al-Quran.

Namun, ketika tiba di gerbang kota itu untuk kembali menyendiri di padang sahara, kudengar satu suara berbisik: “Ke mana kau akan pergi? Kembalilah. Kau harus menolong masyarakat.”

“Kenapa harus kupedulikan orang-orang bobrok itu? Aku harus melindungi imanku!” Seruku lantang.

“Kembalilah, dan jangan khawatirkan imanmu.” Bisikan suara itu terdengar lagi. “Tak ada sesuatu pun yang akan membahayakan dirimu.” Aku tak dapat melihat siapa gerangan yang berbicara itu.

Kemudian sesuatu terjadi atas diriku. Entah apa yang mendorongku, tiba-tiba aku bertafakur. Seharian aku berdoa kepada Allah semoga Dia berkenan membuka tabir dariku sehingga mengetahui apa yang harus aku lakukan.

Awal Mula Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Belajar Tasawuf

Hari berikutnya, ketika aku mengembara di pinggiran kota Baghdad, di sekitar Mudzafariyah, seorang lelaki yang tak pernah kukenal sebelumnya, membuka pintu rumahnya dan memanggilku: “Hai Abdul Qadir.”

Ketika berada tepat di depan pintu rumahnya, ia berkata: “Katakan padaku apa yang kau minta kepada Allah. Apa yang kau doakan kemarin?”

Aku diam terpaku, tak dapat kutemukan jawabannya. Orang itu menatapku, lalu tiba-tiba membanting pintu dengan sangat keras sehingga debu-debu berterbangan dan mengotori nyaris seluruh tubuhku.

Aku pergi, sambil bertanya-tanya apa yang kupinta kepada Allah sehari sebelumnya. Aku berhasil mengingatnya, lalu kembali ke rumah itu untuk memberikan jawaban. Namun, rumah tadi tak dapat kutemukan, begitu pun orang itu. Rasa takut menyelubungiku. Pikirku, ia tentu orang yang dekat dengan Allah. Kelak , aku mengetahui bahwa orang itu adalah Syaikh Hammad ad-Dabbas, yang kemudian menjadi guruku.

Pada suatu malam yang dingin, di tengah guyuran hujan deras, tangan ghaib menuntun Syaikh Abdul Qadir al-Jailani ke padepokan tasawuf milik Syaikh Hammad bin Muslim ad-Dabbas. Pimpinan padepokan itu mengetahui kedatangan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani melalui ilham. Syaikh Hammad memerintah agar pintu padepokan ditutup dan lampu dipadamkan.

Setibanya di depan pintu padepokan, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dilanda kantuk yang hebat dan langsung tertidur lelap. Dalam tidurnya beliau berhadats besar sehingga beliau pergi untuk mandi dan berwudhu di sungai. Usai bersuci kembali beliau tertidur dan berhadats lagi, hingga tujuh kali dalam semalam. Tujuh kali beliau mandi dan berwudhu dengan air yang nyaris membekukan tubuh.

Keesokan paginya, pintu padepokan dibuka dan beliau pun masuk ke dalamnya. Syaikh Hammad bangkit untuk mengucapkan salam kepada beliau. Dengan penuh suka cita, Syaikh Hammad memeluk beliau dan berkata: “Anakku, abdul Qadir, hari ini keberuntungan milik kami. Esok, engkaulah pemiliknya. Jangan pernah tinggalkan jalan ini.”

Syaikh Hammad menjadi guru pertama beliau dalam bidang tasawuf. Melalui tangan Syaikh Hammad itulah beliau bersumpah dan memasuki jalan thariqah. Mengenai hal ini, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bercerita:

“Aku belajar kepada banyak guru di Baghdad. Namun, setiap kali aku tak dapat memahami sesuatu atau ingin mengetahui suatu rahasia, Syaikh Hammad memberiku penjelasan. Kadangkal aku dimintanya mencari ilmu dari ulama lain, mengenai akidah, hadits, fiqih dan lain-lain. Setiap kali aku pulang ke padepokan, ia selalu bertanya: “Ke mana saja kau? Selama kepergianmu, kami mendapatkan begitu banyak makanan yang sangat lezat bagi tubuh, akal, serta jiwa dan tak sedikitpun yang kami sisakan untukmu.”

Di saat yang lain ia berkata: “Demi Allah, dari mana saja kau? Adakah orang lain di sini yang lebih tahu (alim) daripada engkau?”

Murid-muridnya mengusikku dengan mengatakan: “Kau adalah ahli fiqih, mahir menulis dan ahli ilmu. Mengapa kau tidak keluar saja dari sini!?”

Syaikh Hammad menegur dan menenangkan mereka: “Sungguh memalukan! Aku bersumpah, tak ada seorang pun diantara kalian yang lebih tinggi dari tumitnya. Jika kalian kira bahwa aku iri kepadanya (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani) dan kalian mendukungku, ketahuilah bahwa aku justru akan mengujinya dan mengantarkannya kepada kesempurnaan. Ketahuilah, di alam ruhani, kedudukannya seperti batu sebesar gunung.”

Kesengsaraan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani saat Belajar di Baghdad

Semasa belajar di Baghdad, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah mengalami masa penceklik. Semua orang merasa kesulitan, termasuk beliau. Mengenai hal ini, beliau menuturkan:

“Aku Cuma makan duri, kacang dan daun kubis yang ada di tepian sungai dan danau. Kesulitan lain tiba-tiba masih menyusul di Baghdad. Kesulitan itu yaitu melambungnya harga-harga. Ketika itu aku sampai tidak bisa makan apa-apa. Aku bahkan harus mencari sisa makanan yang bisa dimakan. Saking laparnya, aku lalu pergi ke danau. Aku berharap bisa menemui daun kubis, kacang atau apapun yang bisa dimakan.

Sayangnya, setiap kali aku pergi ke suatu tempat , pasti sudah ada orang yang sudah lebih dulu di sana. Ketika mendapati ada orang fakir yang ikut mencari makanan, aku langsung pergi. Aku malu. Aku kembali berjalan ke tengah kota.

Setiap menemukan satu biji-bijian, aku pasti keduluan. Aku terus mencari sampai aku tiba di suatu masjid yang ada di pasar Raihaniyin, Baghdad. Aku sudah terlalu lelah. Bahkan, untuk untuk memegang sesuatu saja aku sudah tidak mampu lagi. Aku lalu masuk ke dalam masjid . Aku duduk-duduk di sana.

Aku hampir mati saat itu. Untungnya ada seorang pemuda non Arab yang juga baru masuk ke masjid. Ia membawa kue lapis dan roti bakar. Ia duduk lalu makan roti yang dibawanya. Setiap kali pemuda itu hendak memasukkan makanan ke dalam mulut, mulutku seolah mengikuti gerak mulutnya seperti orang yang hendak memasukkan makanan. Itu aku lakukan karena terlalu lapar. Sebetulnya aku merasa aneh dengan apa yang aku lakukan. “Apa yang aku lakukan ini?” kataku dalam hati.

Sejurus kemudian, pemuda itu menengok ke arahku. Ia pun menawariku. Aku menolak. Dia lalu membagi makanannya untukku. Nafsukku terus menggoda, tetapi aku terus menolak. Ia pun membagi lagi. Akupun menerimanya. Aku lalu memakan makanan itu. Ia lalu menanyaiku: “Kamu dari mana? Namamu siapa?”

“Aku pelajar dari Jailan,” jawabku.

“Aku juga dari Jailan. Apakah kamu mengenal seorang pemuda dari Jailan yang bernama Abdul Qadir. Ia lebih dikenal dengan panggilan Abu Abdullah as-Sama’i az-Zahid,” kata pemuda itu

“Itu aku,” jawabku.

Mendengar jawabanku, pemuda itu kaget dan wajahnya langsung berubah. “Demi Allah, aku sudah sampai di Baghdad semenjak tiga hari yang lalu. Kemarin aku masih memiliki beberapa bekal. Aku sudah bertanya ke mana-mana tentang keberadaanmu, tetapi tidak ada yang membantuku. Akupun menghabiskan bekalku. Selama tiga hari, aku tidak menemukan apa yang bisa aku makankecuali yang kita makan ini. Padahal kematian sudah mengancamku. Aku pun memutuskan kue lapis dan roti bakar itu aku berikan padamu. Makanlah! Habiskan saja! Itu untukmu. Sekarang aku tamumu. Sebelumnya kamu memang tamuku.” Kata pemuda itu.

Aku bertanya padanya: “Apa itu?”

“Ibumu menitipkan delapan dinar untukmu, aku pakai sebagian untuk membeli roti ini karena terpaksa. Aku benar-benar minta maaf padamu.”

Mendengar itu, aku pun menenangkannya. Aku memuji pemuda itu. Aku pun menyerahkan sisa makanan dan sedikit emas. Dia pun menerimanya lalu pergi.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani baru sadar bahwa ibunya selalu mengirimi beliau sejumlah uang. Sebagiannya sampai kepada beliau, dan sebagian lagi tidak sampai. Baghdad teralu besar dan luas. Beliau tidak mungkin mengetahui hal serumit itu sebelumnya.

Baju Kesufian Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tampil sebagai contoh penting yang menunjukkan bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban suci setiap muslim dan muslimat, dari buain hingga liang lahat. Beliau mengungguli sufi terbesar pada zamannya. Beliau hafal al-Quran dan belajar tafsir kepada Syaikh Ali Abul Wafa al-Qail, Abul Khattab Mahfudz dan Abul Hasan Muhammad al-Qadhi.

Menurut sebagian sumber, beliau belajar kepada Qadhi Abu Sa’id al-Mubarak bin Ali al-Muharami, ulama besar pada zamannya di Baghdad. Meski Syaikh Abdul Qadir al-Jailani belajar tasawuf dari Syaikh Hammad ad-Dabbas dan memasuki jalan thariqah melaluinya, namun beliau juga dianugerahi jubah darwis, simbol jubah Nabi Saw. dari Qadhi Abu Sa’id melalui jalur Syaikh Abul Hasan Ali Muhammad al-Qurasyi dari Abul Faraj at-Tarsusi dari at-Tamimi dari Syaikh Abubakar asy-Syibli dari Abu Qasim dari Sari as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi dari Dawud ath-Tha’I dari Habib al-A’dzami dari Hasan al-Bashri hingga sampai kepada Sayyidina Ali Bin abu Thalib Ra. Sayyidina Ali menerima jubah pengabdian dari Nabi Muhammad Saw. kekasih Allah semesta alam, yang menerimanya dari Jibril dan ia menerimanya dari Yang Maha Besar Allah Swt.

Suatu hari, seorang bertanya kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tentang apa yang diperolehnya dari Allah Swt. Beliau menjawab: “Ilmu dan akhlak mulia.”

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Disuwuk oleh Rasulullah Saw. dan Sayyidina Ali saat Kesulitan di Awal Mengajar

Qadhi Abu Sa’id al-Muharrami mengajar di madrasahnya di Bab al-Azj, Baghdad. Kemudian ia serahkan madrasah itu kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yang telah menjadi pengajar di sana. Ketika itu, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berusia lima puluh tahun. Ucapan beliau sangat fasih dan dahsyat, mampu memengaruhi siapa saja yang mendengarnya. Murid-murid dan jamaahnya bertambah pesat. Dalam waktu yang sangat singkat, tak ada lagi tempat di madrasah itu untuk menampung mereka. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bercerita tentang saat-saat pertama pengajarannya:

“Suatu pagi aku bertemu Rasulullah Saw. yang bertanya kepadaku: “Mengapa kau diam saja?”

Aku menjawab: “Aku orang Persia, bagaimana aku dapat berbahasa Arab dengan fasih di Baghdad?”

“Bukalah mulutmu,” ujar Rasulullah Saw.

Aku menuruti perintahnya. Kemudian Rasulullah Saw. meniup (meludahi) mulutku tujuh kali dan berkata: “Berdakwahlah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan kata-kata yang baik.”

Lalu aku shalat Dzuhur dan beranjak menemui orang-orang yang telah menantikan ceramahku. Saat melihat mereka, aku gugup. Lidahku menjadi kelu. Tiba-tiba aku melihat Imam Ali mendekatiku dan memintaku membuka mulut. Lalu ia meniupkan napasnya ke mulutku sebanyak enam kali. Aku bertanya: “Mengapa tidak tujuh kali seperti yang dilakukan Rasulullah?”

“Karena aku menghormati Rasulullah,” ujar Imam Ali, dan ia berlalu.

Seketika itu pula meluncur kata-kata yang sangat lancar dari mulutku: “Akal adalah penyelam, yang menyelami samudera hati untuk menemukan mutiara hikmah. Jika ia membawanya ke tepian wujudnya, ia akan memicu pengucapan kata. Dan dengan itu ia membeli mutiara ibadah dan pengabdian kepada Allah.”

Lalu kukatakan: “Pada suatu malam seperti malam-malam yang kualami, jika diantara kalian mampu menaklukkan birahinya, kematian akan menjadi sangat indah. Sehingga baginya, tak ada sesuatupun yang dapat menandingi keindahannya.”

Sejak saat itu dan seterusnya, baik ketika terjaga maupun terlelap, aku senantiasa menjalankan kewajibanku sebagai pengajar. Ada banyak ilmu keimananan dan agama dalam diriku. Ketika aku tak membicarakan atau melafalkannya, aku merasa ilmu-ilmu meluncur dengan sendirinya. Saat mulai mengajar. Hanya ada beberapa murid yang mendengarkanku. Namun tak lama kemudian, mereka bertambah hingga tujuh puluh ribu orang.

Perluasan Madrasah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Madrasah dan pondok beliau tak lagi mampu menampung para pengikut beliau. Dibutuhkan tempat yang lebih luas. Orang kaya dan miskin membantu mendirikan bangunan. Orang kaya membantu dengan harta dan orang miskin membantu dengan tenaganya. Bahkan kaum wanita di Baghdad pun membantu.

Seorang wanita muda yang bekerja secara suka rela memperkenalkan suaminya yang enggan bergotong-royong kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. “Ini suamiku. Aku telah menerima mahar darinya sebanyak dua puluh keping emas, separuhnya akan kuberikan kembali kepadanya dan separuh lagi akan kubayarkan jika ia ikut bekerja di sini.” Kata wanita itu.

Lalu keping emas itu ia serahkan kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dan laki-laki itupun mulai bekerja. Ia pun terus bekerja meskipun jatah maharnya telah habis. Kendati demikian, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tetap membayarnya karena beliau tahu bahwa ia miskin.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Menjadi Pemuka Agama yang Paling Mumpuni dan Disegani

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah ulama dan imam dalam ilmu-ilmu agama, kalam dan fiqih, serta tokoh terkemuka Madzhab Syafi’i dan Hanbali. Keberadaan beliau memberi manfaat yang sangat besar bagi semua orang. Doa dan kutukannya selalu dikabulkan. Beliau memiliki banyak keistimewaan. Beliau adalah manusia sempurna yang selalu mengingat Allah, bertafakur, merenung serta belajar dan mengajar.

Hati beliau lembut, perilaku beliau santun, dan paras beliau senantiasa tampak ceria. Beliau juga selalu bersimpati dan memelihara perilaku yang mulia. Di mata orang-orang, beliau tampil sebagai sosok yang berwibawa, dermawan dan gemar memberi bantuan berupa uang, nasehat, maupun ilmu. Beliau menyanyangi sesama, terutama kaum mukmin yang taat dan selalu beribadah kepada Allah.

Penampilan beliau selalu terjaga sehingga nampak tampan dan necis. Beliau tak suka berbicara berlebihan. Jika bicara, meski cepat, setiap kata maupun suku kata beliau terdengar jelas. Bicara beliau santun dan hanya yang diucapkan hanya kebenaran. Beliau sampaikan kebenaran dengan lantang dan tegas. Beliau tak peduli apakah orang lain akan memuji, mencela, mengkritik atau bahkan memaki beliau.

Ketika Khalifah al-Muqtafi mengangkat Yahya bin Sa’id sebagai Qadhi (kepala pengadilan), Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengkritiknya di hadapan khalayak: “Kau telah mengangkat orang yang sangat dzalim sebagai hakim atas kaum mukmin. Mari kita saksikan apa pembelaanmu ketika kau dihadapkan kepada Hakim Agung, Tuhan Semesta Alam.”

Mendengar kritikan pedas itu khalifah gemetar dan menangis . Ia segera memecat qadhi itu.

Saat itu, penduduk Baghdad mengalami kemerosotan moral dan perilaku. Berkat kehadiran Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, banyak penduduk yang benar-benar bertaubat, menjaga perilaku dan menjalankan syariat Islam dengan baik.

Orang-orang pun semakin mencintai dan menghormati Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Pengaruh beliau semakin meluas. Orang shaleh mencintai beliau dan para pelaku maksiat takut kepada beliau. Banyak orang, termasuk raja, menteri dan kaum bijak bestari, datang meminta nasehat beliau. Banyak kaum Yahudi dan Kristen yang masuk Islam karena beliau.

Pendeta yang Meragukan Mi’raj Rasulullah Saw. Dengan Ruh dan Jasadnya

Ada seorang pendeta yang sangat bijak dan berpengaruh di Baghdad yang memilki banyak pengikut. ia memiliki pengetahuan yang luas tidak hanya mengetahui tradisi Yahudi dan Kristen, tetapi juga mengenai Islam. Ia pun mengetahui kitab suci al-Quran dan sangat menghargai Nabi Muhammad Saw. Khalifah sangat menghormatinya dan berharap ia dan pengikutnya masuk Islam. sebenarnya, pendeta itu ingin masuk Islam. Hanya saja, ia masih meragukan bahwa Mi’raj Nabi Muhammad Saw. terjadi berikut raganya.

Mi’raj itu terjadi ketika Nabi Saw. diperjalankan dari Makkah ke Yerusalem dengan jasad dan ruh beliau. Kemudian naik ke tujuh lapis langit serta menyaksikan banyak hal. Beliau Saw. melihat surga dan neraka, lalu bertemu dengan Allah Swt. yang menyampaikan sembilan ribu kata. Saat pulang dari perjalanan itu, kasur Nabi Saw. belum mendingin dan daun yang tersentuh dalam perjalanan belum berhenti bergoyang.

Akal sang pendeta tidak menerima peristiwa Mi’raj itu dan segala yang disampaikan Nabi Saw. sepulang dari perjalanan itu. Bahkan, sesungguhnya banyak kaum Muslimin ketika itu yang tidak mempercayai penjelasan Nabi Saw., dan menjadi murtad. Peristiwa itu benar-benar menjadi ujian yang sangat berat bagi keimanan kaum Muslimin. Karena akal tidak dapat menerima fenomena serupa itu.

Khalifah mengundang para bijak bestari dan para syaikh untuk menyakinkan si pendeta. Namun tak ada satupun yang mampu. Kemudian pada suatu sore, ia memohon kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani untuk menyakinkan si pendeta mengenai kebenaran Mi’raj Nabi Saw.

Ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani datang ke istana, si pendeta dan khalifah tengah bermain catur. Saat pendeta mengangkat sebuah bidak catur, tiba-tiba matanya beradu pandang dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Si pendeta memejamkan matanya. Ketika membuka mata, tiba-tiba ia berada di sebuah sungai dan dihanyutkan oleh alirannya yang deras. Ia berteriak minta tolong.

Seorang penggembala pemuda lompat ke sungai menyelamatkannya. Ketika pemuda itu memeluknya, ia sadar bahwa ia tidak berpakaian dan dirinya telah berubah menjadi seorang gadis. Si penggembala menariknya keluar dan serta-merta menanyakan keluarga dan rumahnya.

Ketika gadis itu (pendeta) menyebutkan Baghdad, si penggembala itu mengatakan bahwa butuh waktu berbulan-bulan untuk sampai ke sana. Si penggembala menghormati, menjaga dan melindunginya. Namun karena tak ada tempat yang ditujunya, si penggembala menikahinya. Dari pernikahan itu mereka memiliki tiga orang anak.

Suatu hari, saat si istri mencuci pakaian di sungai yang menghanyutkannya beberapa tahun silam, ia tergelincir dan jatuh ke air. Ketika sadar dan membuka mata, ia dapati dirinya duduk di hadapan khalifah, memegang bidak catur dan masih bertatap pandang dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Lalu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berujar kepadanya: “Hai pendeta yang malang, apakah saat ini kau masih enggan mengakui?”

Si pendeta yang masih ragu dan menganggap apa yang dialaminya itu hanyalah mimpi, menjawab: “Apa yang kau maksudkan?”

“Apakah engkau ingin berjumpa dengan anak dan suamimu?” Tanya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani seraya membuka pintu.

Di depan pintu istana itu telah berdiri si penggembala dengan tiga orang anaknya. Mengalami runtutan kejadian itu, si pendeta langsung menyatakan keimanan dan mengakui kebenaran Mi’raj Nabi Saw. Ia dan jamaahnya yang berjumlah sekitar lima ribu orang masuk Islam melalui Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Allah Mencatat Tidak Akan Murka kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Meskipun dikenal orang yang lembut, santun dan penyanyang, dan selalu menepati janji jika berurusan dengan keadilan, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bersikap tegas. Beliau tak pernah marah jika orang lain memperlakukan beliau dengan buruk. Namun, jika mereka mengusik agama dan keimanan, beliau akan sangat marah dan segera menimpakan hukuman yang berat.

Seorang syaikh kala itu, Abu Najib as-Suhrawardi, menceritakan:

“Pada tahun 523 H, dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh Syaikh Hammad, guru Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengucapkan suatu pernyataan besar. Saat itu juga Syaikh Hammad menegur beliau: “Hai Abdul Qadir, kau berbicara terlalu lancing. Aku takut murka Allah akan menimpamu.”

Lalu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menempelkan telapak tangan beliau ke dada Syaikh Hammad: “Lihatlah telapak tanganku dengan mata hatimu. Dan katakan tulisan yang terbaca di sana.”

Ketika Syaikh Hammad tak dapat menjawab, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengangkat tangannya lalu menunjukkan kepada Syaikh Hammad. Di sana nampak tulisan yang sangat jelas: “Ia (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani) telah menerima tujuh puluh janji dari Allah bahwa ia tidak akan dimurkai.”

Manyaksikan itu, Syaikh Hammad berkata: “Takkan ada sedikitpun keburukan atas orang yang dikaruniai janji itu dari Allah. Tak seorang pun kesal kepadanya. Allah merahmati siapa saja yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya.”

Para Pengikut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani Semua Mati dalam Keadaan Bertaubat

Dalam riwayat lain, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan: “Tidak ada seorang pun pengikutku yang mati sebelum bertaubat. Mereka mati sebagai hamba yang beriman kepada Allah. Setiap satu orang pengikutku yang shaleh akan menyelamatkan tujuh orang saudaranya yang berdosa di api neraka. Seandainya ada aib salah seorang pengikutku, yang berada di bagian paling barat dunia, yang akan disingkapkan secara semena-mena, maka kami, meski berada di bagian paling timur dunia, akan menutupinya sebelum diketahui siapapun.”

“Aku dikarunia kitab. Tidak semua orang dapat melihatnya. Dalam kitab itu tercantum nama para pengikutku hingga hari kiamat. Dengan rahmat Allah akan kami selamatkan mereka. Beruntunglah orang yang pernah bertemu denganku. Aku prihatin kepada orang-orang yang tidak akan bertemu denganku.”

Semua orang yang dekat dengan beliau selalu merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Seseorang pernah bertanya kepada beliau: “Kami tahu keadaan para pengikutmu yang shaleh dan apa yang telah disediakan bagi mereka di hari kiamat. Namun, bagaimana dengan pengikutmu yang berbuat maksiat?”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjawab: “Para pengikutku yang shaleh setia kepadaku. Dan aku setia untuk menyelamatkan mereka yang berbuat maksiat.”

Seorang wanita muda pengikut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tinggal di Ceylon, suatu hari ketika melintas di tempat yang sepi, seorang laki-laki mencegat dan bermaksud memperkosanya. Dalam keadaan tak berdaya, wanita muda berteriak: “Wahai Syaikh Abdul Qadir al-Jailani guruku tolonglah aku!”

Ketika itu di Baghdad, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sedang berwudhu. Orang-orang melihat beliau menghentikan wudhunya dan dengan marah beliaupun mencopot sandalnya lalu melemparkannya ke udara. Mereka tak melihat jatuhnya sandal itu. Ternyata sandal itu mengenai kepala si lelaki yang tengah menganiaya gadis itu dan menewaskannya. Konon, sandal itu kini masih ada di sana dan dijaga sebagai benda suci.

Sahl bin Abdullah at-Tustari meriwayatkan bahwa, pada suatu hari para pengikut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di Baghdad mencari-cari guru mereka. Ke mana-mana mereka mencari namun tak juga diketemukan. Ketika seseorang mengatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berjalan ke arah sungai Tigris, mereka bergegas ke sana. Setibanya di sana, mereka melihat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berjalan di permukaan sungai. Mereka melihat semua ikan muncul di permukaan dan menyalami Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Peristiwa ini terjadi pada waktu Dzuhur. Mereka melihat permadani luas terhampar di atas kepala mereka, dan menutupi angkasa. Pada permadani itu tertulis ayat dengan tinta emas dan perak: “Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Yunus ayat 62). “Para malaikat berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atasmu hai Ahlul Bait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud ayat 37).

Aminnya Para Malaikat Didengar saat Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Mengimami Shalat

Sahl bin Abdullah at-Tustari meriwayatkan bahwa, pada suatu hari para pengikut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di Baghdad mencari-cari guru mereka. Ke mana-mana mereka mencari namun tak juga diketemukan. Ketika seseorang mengatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berjalan ke arah sungai Tigris, mereka bergegas ke sana. Setibanya di sana, mereka melihat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berjalan di permukaan sungai. Mereka melihat semua ikan muncul di permukaan dan menyalami Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Peristiwa ini terjadi pada waktu Dzuhur. Mereka melihat permadani luas terhampar di atas kepala mereka, dan menutupi angkasa. Pada permadani itu tertulis ayat dengan tinta emas dan perak: “Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Yunus ayat 62). “Para malaikat berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atasmu hai Ahlul Bait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud ayat 37).

Layaknya permadani terbang Nabi Sulaiman As., permadani itu terbang melayang lalu turun ke tanah. Dengan rasa takjub , tenang dan tentram, orang-orang berjalan menuju permadani itu. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang tampak megah dengan pakaian yang indah juga melangkah ke arah permadani, lalu menjadi imam shalat.

Ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengangkat tangannya dan mengucapkan: “Allahu Akbar,” seluruh angkasa menggemakan kalimat yang sama. Ketika beliau shalat, para malaikat tujuh lapis langit secara tertib mengikuti beliau.

Ketika beliau mengucapkan: “Alhamdulillah,” sinar kehijauan memancar dari mulut beliau dan menyebar ke seluruh angkasa.

Di akhir shalat, seraya menengadahkan tangan beliau berdoa: “Ya Allah, demi leluhurku dan kekasihMu Muhammad Saw., dan demi para hambaMu yang bertakwa dan mencintaiMu, jangan cabut nyawa para pengikutku kecuali jika dosa-dosa mereka telah diampuni dan iman mereka telah disempurnakan.”

Semua hadirin mendengar para malaikat bersamaan berucap: “Aamiin.” Mereka mengikuti aminnya para malaikat. Lalu mereka semua mendengar suara dari dalam diri mereka sendiri: “Bergembiralah. Aku telah mengabulkan doamu.”

Rasulullah Saw. bersabda: “Syaikh yang sempurna laksana nabi bagi para pengikutnya. Dan sesungguhnya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani termasuk diantara syaikh yang sempurna yang telah membukkan pintu kebahagian dunia ini untuk para pengikutnya dan pintu surga di akherat kelak.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani telah berhasil menaklukan nafsunya dan telah berhasil menjadi manusia sempurna berkat ilham dan perintah Nabi Saw. Beliau menjadi guru yang punya hubungan kuat dengan manusia dan niat kuat meneladani Nabi Muhammad Saw.

Ketika Empat Istri Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Mengadu

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memiliki empat orang istri, yang semuanya sangat setia dan taat kepada beliau. Dari ke empat istri beliau, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memiliki 49 anak, 27 laki-laki dan 22 perempuan.

Suatu hari, istri-istri beliau mendatangi beliau dan berkata: “Wahai pemilik akhlak yang mulia, anak bungsumu wafat dan kami tak melihatmu menangis atau bersedih. Tidakkah kau menyanyangi orang yang menjadi bagian dari dirimu? Kami sangat berduka, tetapi engkau tetap sibuk dengan urusanmu seakan-akan tak ada yang terjadi. Kau adalah pemimpin, pembimbing dan harapan kami di dunia maupun di akherat. Tetapi, hatimu sekeras itu, bagaimana kami dapat bersandar kepadamu di hari kiamat dan berharap kau dapat menyelamatkan kami?”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjawab: “Sahabat-sahabatku tercinta, jangan pernah mengira hatiku keras. Aku mengasihi orang kafir karena kekafiran mereka. Aku mengasihi anjing yang menggigitku dan berdoa kepada Allah agar tidak menggigit orang lain dimana mereka akan melemparinya dengan batu. Tidaklah kalian tahu bahwa aku mewarisi kasih sayang dari orang yang telah diutus Allah sebagai rahmat bagi semesta alam?”

Para istri beliau berkata: “Engkau mengasihi bahkan kepada anjing yang menggigitmu, tetapi mengapa engkau tak menunjukkan rasa iba atas anakmu yang telah dipenggal pedang kematian?”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Duh sahabat-sahabatku yang malang, kau menangis karena berpisah dengan anak yang kau cintai. Kau melihat anakmu dalam mimpi duniawi dan kau kehilangan dia dalam mimpi yang lain. Allah berfirman: “Dunia ini adalah mimpi.” Dunia ini adalah mimpi bagi orang-orang yang tidur. Sementara aku tetap terjaga. Aku melihat anakku ketika ia berada dalam lingkaran waktu. Kini, ia telah keluar dari lingkaran itu. Aku masih melihatnya, dan ia tetap bersamaku. Ia sedang bermain di dekatkku persis seperti saat-saat sebelumnya. Ketahuilah, jika kau melihat dengan mata hati, baik dalam keadaan hidup maupun mati, kebenaran tidak akan pernah hilang.”

Godaan Setan kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Dikisahkan bahwa pada suatu hari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan para pengikut beliau berjalan kaki di padang pasir dan saat itu padang pasir benar-benar panas. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bercerita:

“Aku merasa sangat lelah dan dahaga. Para pengikutku berjalan di depanku. Tiba-tiba sekumpulan awan muncul di atas kepala, seperti payung yang melindungi kami dari terik matahari. Di depan kami muncul sebuah mati air yang jernih dan sebatang pohon kurma penuh dengan buah yang telah masak.

Lalu, muncullah cahaya yang lebih terang dari matahari. Dari arah sinar itu terdengar suara: “Hai umat Abdul Qadir, akulah Tuhan! Makan dan minumlah, sebab telah kuhalalkan untukmu apa yang kuharamkan atas orang lain.”

Para pengikutku yang berada di depanku berlarian menuju mata air dan pohon kurma itu. Aku berteriak menghentikan mereka. Kutantang sinar itu seraya berteriak: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk!”

Seketika, awan, cahaya, mata air dan pohon kurma itu lenyap. Setan itu berdiri di depan kami dengan rupa yang sangat buruk. Ia bertanya: “Bagaimana kau mengenaliku?”

Kukatakan pada setan terkutuk yang telah diusir dari rahmat Allah itu: “Firman Allah bukanlah dalam bentuk suara yang dapat didengar telinga. Selain itu, aku tahu hukum Allah bersifat tetap dan berlaku atas semua orang. Dia takkan mengubahnya atau menghalalkan yang haram bagi sekelompok orang yang disukaiNya.”

Mendengar ucapanku, setan menggoda agar aku menjadi angkuh: “Hai Abdul Qadir, aku telah memperdaya tujuh puluh nabi dengan muslihat ini. Sungguh ilmu dan kebijaksanaanmu lebih tinggi daripada nabi.”

Kemudian setan itu menunjuk ke arah pengikutku dan berkata: “Hanya sebanyak inikah pengikutmu? Seharusnya seluruh dunia menjadi pengikutmu karena kau laksana nabi.”

Lalu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: “Aku berlindung darimu kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Bukan ilmu atau kebijaksanaanku yang dapat menyelamatkanku darimu, melainkan kasih sayang Allah.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memandang bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Beliau melakukan segala sesuatu hanya karena Allah, dan tidak menisbatkan sesuatupun pada makhluk, termasuk kepada beliau sendiri. Beliau selalu mengerjakan apa yang beliau katakan. Beliau anggap sama, baik pujian atau cercaan, manfaat atau mudharat. Ilmu beliau luas dan kebijaksanaan tinggi, bagi beliau, orang berilmu dan tak mengamalkan ilmunya laksana keledai yang membawa buku.”

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan Ilmu Filsafat

Salah seorang syaikh yang sezaman dengan beliau, yaitu Syaikh Mudzaffar Manshur bin al-Mubarak al-Wasithi, meriwayatkan:

“Aku mengunjungi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bersama beberapa muridku. Aku membawa sebuah buku filsafat. Beliau menyalami dan memandang kami lalu berkata kepadaku: “Betapa kotor dan buruknya sahabat yang kau genggam itu. Pergi dan cucilah tanganmu.”

Aku terkejut mendengar ucapan marah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Tak mungkin beliau mengetahui isi buku yang memang kusukai dan nyaris kuhafal itu. Terlintas pikiran untuk berdiri dan menyembunyikan buku itu di suatu tempat untuk diambil kembali saat pulang.

Baru saja aku hendak bangkit, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menatapku tajam dan aku tak dapat berdiri. Beliau memintaku menyerahkan buku itu. Sebelum kuberikan, aku membukanya untuk terakhir kali. Namun, tak ada satupun hurup yang kulihat. Semuanya kosong. Putih. Semua yang tertulis di sana telah hilang.

Setelah menerima buku itu, beliau amati apa yang ada di dalamnya lalu menyerahkannya kembali kepadaku seraya berkata: “Inilah keutamaan al-Quran yang ditulis oleh Daris.”

Kuterima dan kubuka buku itu. Ternyata, buku filsafat itu telah diubah menjadi Fadhail al-Quran karya Ibn Daris, dengan tulisan yang sangat indah. Kemudian beliau berkata: “Maukah kau bertaubat dengan lisan dan hatimu?”

“Ya.” Jawabku.

“Berdirilah.”

Ketika aku bangkit, kurasakan semua ilmu filsafatku luruh dari fikiranku dan jatuh ke tanah. Tak satu pun kata mengenainya yang tersisa dalam fikiranku.”

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Dapat Membaca Pikiran Para Muridnya

Dikisahkan bahwa sekelompok orang berkumpul dekat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, berharap dapat mendengarkan ceramah beliau. Namun, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani duduk sangat lama tanpa berkata sepatah katapun. Jamaah juga duduk menanti dengan tenang.

Tiba-tiba mereka diliputi kenikmatan. Pikiran dan imajinasi mereka seakan-akan hilang. Lalu semuanya secara berbarengan memikirkan hal sama: “Apa yang tengah dipikirkan syaikh.”

Secepat pertanyaan itu muncul dalam pikiran mereka, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Baru saja seseorang tiba-tiba datang dari Makkah bertaubat di depanku lalu pulang kembali.”

Jamaah berfikir serentak: “Mengapa orang yang dapat terbang langsung dari Makkah ke Baghdad perlu bertaubat?”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Terbang di udara adalah satu hal, namun merasakan cinta adalah hal lain. Aku telah mengajarinya bagaimana mencinta.”

Syaikh Abdullah Zayat mengkisahkan bahwa ketika itu tahun 560 H. Aku menjadi salah seorang murid di madrasah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Suatu hari, aku melihatnya pergi meninggalkan rumah dengan tongkat di tangannya. Aku berkata dalam hati: “Andai saja ia memperlihatkan keajaiban melalui tongkat itu.”

Tiba-tiba ia menoleh kepadaku, tersenyum, lalu mengetukkan tongkatnya ke pasir. Tiba-tiba tongkat berubah menjadi cahaya yang memancar ke langit, menyinari segalanya selama satu jam. Kemudian ia memegang cahaya itu, dan seketika berubah kembali menjadi tongkat. Beliau memandangku lagi dan berkata: “Hai Zayat, itukah yang kau inginkan?”



Riyadhah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Melalui diri beliau, lebih dari lima ribu orang Yahudi dan Kristen menjadi Muslim. Lebih dari seratus ribu bajingan, penjahat, pembunuh, pencuri dan perampok bertaubat dan menjadi orang shaleh. Beliau menuturkan bagaimana beliau mencapai keutamaan itu:

“Selama 25 tahun aku berkelana di padang sahara Irak. Aku tidur di reruntuhan bangunan. Selama 12 tahun aku menyepi di sebuah reruntuhan kastil di Sahara Syustar, yang berjarak 12 hari perjalanan dari Baghdad. Aku berjanji kepada Tuhanku bahwa aku tidak akan makan dan minum sebelum meraih kesempurnaan ruhani.

Pada hari ke-40, seseorang datang membawa setumpuk roti dan makanan, kemudian meletakkannya di depanku. Lalu ia menghilang. Tubuhku berteriak: “Aku lapar, aku lapar!”

Nafsuku berbisik: “Janjimu telah kau tepati. Mengapa kau tidak makan?” Tetapi aku tidak melanggar sumpahku kepada Allah.

Saat itu Abu Sa’id al-Muharrami lewat di hadapanku. Ia mendengar jeritan lapar tubuhku, meski aku tidak mendengarnya. Ia menghampiriku dan ketika melihat keadaanku yang lemah, ia berkata: “Apa yang kulihat dan kudengar ini, wahai Abdul Qadir?”

Jawab Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan hiraukan wahai sahabatku. Itu hanyalah suara nafsu yang menantang dan tidak setia. Padahal jiwaku tunduk kepada tuhanku dengan keadaan gembira, tenang dan bahagia.”

“Datanglah ke madrasahku di Bab al-Azj,” pinta Abu Sa’id.

Aku tak menjawabnya, namun dalam hatiku berkata: “Aku takkan meninggalkan tempat ini hingga datang perintah Allah.”

Tak lama setelah itu, Nabi Khidhir datang dan berkata: “Pergilah dan ikutlah bersama Abu Sa’id.”

Setelah menerima perintah itu, aku pergi ke Baghdad, ke madrasah Abu Sa’id. Kudapati ia sedang menungguku di depan pintu. “Aku telah memintamu untuk datang,” katanya. Lalu ia memberiku jubah darwis. Sejak saat itu, aku tak pernah meninggalkannya.

Selama 40 tahun aku tak pernah tidur malam. Aku mendirikan shalat dengan wudhu shalat Tahajudku . Aku membaca al-Quran setiap malam untuk menghilangkan kantuk. Aku berdiri dengan satu kaki dan bersandar ke dinding dengan satu tangan. Aku tidak beranjak dari posisiku hingga khatam al-Quran.

Ketika rasa kantuk tak dapat kutahan, satu suara akan menyeru dan mengejutkan seluruh tubuhku: “Hai Abdul Qadir, aku tidak menciptakanmu untuk tidur! Kau bukan apa-apa. Kuberikan kepadamu kehidupan. Karena itu, meskipun kau hidup, kau tidak mengenal kami.”

Suatu hari, seseorang bertanya: “Wahai Abdul Qadir, kami mendirikan shalat, berpuasa dan menaklukkan nafsu sepertimu. Mengapa kami tidak menerima tingkatan ruhani yang tinggi dan mendapatkan karamah sepertimu?”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjawab: “Pantas saja, kau hanya berusaha menyaingiku dalam amal. Kau kira telah melakukan apa yang kulakukan, padahal kau hanya meniruku. Kau mencerca Allah karena tidak memberimu imbalan yang sama. Allah adalah saksiku ketika aku tak makan dan tak minum kecuali jika Penciptaku memerintahkanku. Makan dan minumlah, kau berhak atasnya karena aku dan demi tubuh yang telah kuberikan kepadamu. Tak pernah kulakukan sesuatupun tanpa perintah Tuhanku.”

Ketika Hujan Takut kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Syaikh Ali bin Musafir menuturkan: “Bersama ribuan orang lainnya, aku berkumpul untuk mendengarkan ceramah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di tempat terbuka. Ketika ia berbicara, hujan turun lebat dan sebagian orang mulai meninggalkan majelis. Langit tertutup awan pekat. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani lalu menengadahkan tangannya seraya berdoa: “Ya Allah, aku telah berusaha mengumpulkan manusia demi Engkau, apakah Engkau menjauhkan mereka dariku?”

Tak lama kemudian hujan pun berhenti. Tak ada setetes pun air hujan turun hingga Syaikh Abdul Qadir al-Jailani selesai berceramah, meskipun di luar tempat kami berkumpul hujan turun dengan derasnya.

Takluknya Orang Terkaya Baghdad di Hadapan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Dikisahkan bahwa Abdus Shamad bin Humam termasuk orang terkaya di Baghdad. Ia dikenal sangat cinta dunia, sombong dan takabur. Ia bangga telah memiliki dunia dan banyak orang yang bekerja kepadanya, ia mengira dapat menguasi dan memerintah mereka untuk melakukan apa saja sesenang hatinya.

Sebagai materialis sejati, ia terang-terangan tidak menyukai Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan mengingkari karamahnya. Ia menuturkan pengalamannya berikut ini:

“Sebagaimana kalian ketahui, aku tak pernah menyukai Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Meskipun kekayaanku berlimpah dan aku dapat memiliki apapun yang aku inginkan, aku tak pernah merasa puas senang dan tenang.

Pada suatu Jum’at, ketika aku lewat di dekat madrasahnya, aku mendengar adzan. Aku berkata dalam hati: “Apa sih keunggulan orang ini, yang telah menarik perhatian banyak orang melalui karamahnya? Aku akan shalat Jum’at di masjidnya!”

Masjid itu telah penuh sesak. Aku merengsek menerobos kerumunan orang dan kuperoleh tempat persis di bawah mimbar. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mulai menyampaikan khutbahnya dan apapun yang dikatakannya membuatku jengkel.

Tiba-tiba aku merasa mulas ingin buang hajat. Tetapi aku tak dapat keluar dari masjid. Aku takut dan sangat malu, karena rasa mulas itu tak dapat kutahan.perasaan jengkelku kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani kian menjadi-jadi.

Namun, ketika aku dibasahi keringat dingin karena malu dan menahan mulas, pelan-pelan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menuruni tangga mimbar dan berdiri di atasku. Seraya berkhutbah, ia menutupiku dengan bagian bawah jubahnya. Tiba-tiba saja aku telah berada di lembah yang hijau dan indah. Kulihat sebuah sungai kecil yang mengalirkan air yang jernih. Segera saja aku buang hajat lalu membersihkan diri dan berwudhu. Setelah itu, kudapati diriku kembali berada di bawah jubah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Ia pun kembali ke atas mimbar.

Aku sangat takjub. Tidak hanya perutku yang merasa nyaman, hatiku pun merasa tentram, semua kejengkelan, amarah dan kekesalan sirna sudah.

Usai shalat, aku keluar dari masjid dan pulang. Di tengah jalan, aku sadar bahwa kunci lemariku hilang. Aku kembali ke masjid dan mencarinya, namun tak kutemukan.

Keesokan harinya aku harus melakukan perjalanan niaga. Tiga hari perjalanan dari Baghdad. Kami tiba di sebuah lembah yang sangat indah. Seakan-akan dituntun ke tepi sungai yang sangat jernih. Aku langsung teringat bahwa di sinilah aku buang hajat dan membersihkan diri. Kini, sekali lagi kubersihkan diri. Dan ternyataa, di sana kutemukan kembali kunci lemariku. Sekembali ke Baghdad, aku menjadi pengikut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Menghidupkan Tulang Belulang


Karena terpikat oleh ketenaran Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, seorang perempuan dari Baghdad memutuskan untuk menitipkan anaknya kepada beliau. Ia mengantarnya kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan berkata: “Kuserahkan anakku kepadamu. Anggaplah ia sebagai anakmu sendiri, dan besarkanlah ia seperti dirimu.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menerimanya dan mulai mengajarkan kebaikan, kesederhanaan dan penaklukan hawa nafsu.

Selang beberapa waktu, si ibu datang melihat keadaan anaknya yang ternyata bertubuh kurus, pucat dan tengah makan roti kering. Ia marah dan meminta bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Sang ibu melihat syaikh berpakaian rapi, duduk di ruang yang menyenangkan dan tengah memakan daging ayam.

“Sementara kau makan daging ayam! Anakku yang malang yang kutitipkan kepadamu tengah mengunyah sepotong roti kering.” cercanya.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani meletakkan tangannya di atas tulang ayam lalu berkata: “Dengan nama Allah yang membangkitkan tulang dari debu, hiduplah!”

Lalu beliau angkat tangannya dan ayam itupun hidup lalu berlari ke atas meja seraya berkata: “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menoleh ke arah perempuan itu dan berkata: “Jika anakmu dapat melakukan hal ini, ia dapat makan apapun yang diinginkan.”

Kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jailani Lebih Tinggi Daripada Leher Semua Wali

Suatu malam, lima puluh syaikh terkemuka pada zamannya di Baghdad berkumpul di rumah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Termasuk diantaranya adalah al-Hafidz Abu al-Izz Abdul Mughits bin Harb, yang menuturkan kisah berikut:

“Malam itu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tengah mendapatkan ilham. Mutiara hikmah berhamburan dari mulutnya. Kami benar-benar merasa tenang dan khusyuk, perasaan yang tak pernah kami alami sebelumnya.

Tiba-tiba Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menunjuk ke arah kakinya dan berkata: “Kaki ini lebih tinggi daripada leher semua wali.”

Tak lama kemudian, salah seorang muridnya, Syaikh Ali bin al-Hili, merunduk ke kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Ditempelkannya kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jailani ke lehernya, lalu kami semua mengikutinya.

Diantara hadirin yang lainnya, yakni Syaikh Abu Sa’id al-Kailawi berkata: “Kaki ini lebih tinggi daripada leher wali.”

Kurasakan kebenaran Allah mewujud dalam hatiku, aku melihat semua wali di dunia berdiri di hadapannya, menutup seluruh penglihatanku. Semua yang hidup hadir secara jasmani, semua wali yang sudah meninggal hadir secara ruhani, langit dipenuhi malaikat dan makhluk ghaib lainnya. Sejumlah malaikat turun dan memberi jubah Rasulullah kepadanya. Lalu kami mendengar suara berkata:

“Hai penguasa zaman dan pembimbing agama, wahai pengamal firman Allah Yang Maha Pengasih, wahai pewaris kitab suci, penerus Rasulullah, wahai orang yang diserahkan kepadanya kekuatan langit dan bumi, yang doanya dikabulkan, jika ia meminta hujan hujan akan turun, wahai yang dicintai dan dimuliakan seluruh makhluk.”

Usai Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menyampaikan ucapannya itu, bukan hanya orang-orang yang ada di hadapan beliau, melainkan semua ulama merasakan bertambahnya ilmu mereka, kebijaksanaan mereka, cahaya Ilahi dalam hati mereka, dan tingkatan ruhani mereka.

Ketika kejadian ini tersiar luas di seluruh dunia Islam, semua syaikh dan guru bersujud untuk menghormati dan menerima kepemimpinannya. Orang-orang yang berbuat dosa datang kepada beliau untuk bertaubat dan disucikan kembali. Para bajingan, pencuri dan penjahat datang kepada beliau lalu menjadi pengikut beliau. Dan beliau menjadi pusat kutub ruhani.

313 wali pada zaman itu, termasuk diantaranya 17 orang yang tinggal di kota suci Makkah, 60 di Irak, 40 di Iran, 20 di Mesir, 30 di Damaskus, 11 di Abissinia, 7 di Ceylon, 27 di barat, 47 di daerah terpencil di gunung Qaf, 7 di kawasan Ya’juj dan Ma’juj, dan 24 di belahan dunia lainnya hingga di lautan. Semuanya patuh dan tunduk, kecuali satu orang Persia.

Syaikh Persia Kuwalat karena Kesombongannya kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Syaikh Persia ini dikenal sangat tekun beribadah. Ia mendirikan shalat lebih banyak dari siapapun dan terus-terusan berpuasa. Ia sering beribadah haji ke Makkah. Ia sangat mendambakan ridha Allah. Selama lima puluh tahun ia mengasingkan diri bersama empat ratus orang muridnya, yang dilatih siang dan malam untuk menyempurnakan diri. Ia banyak memiliki ilmu dan karamah.

Ketika ucapan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sampai kepadanya. Ia tengah menunaikan ibadah haji bersama murid-muridnya, di kota suci Makkah. Entah meremehkan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani atau mengagungkan dirinya sendiri, ia menolak menghormati dan memuliakan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Malam harinya, ia bermimpi meninggalkan Makkah menuju Bizantium dan di sana ia menyembah berhala. Karena sedih mendapatkan mimpi itu, ia kumpulkan semua murid-muridnya dan mengatakan ia harus pergi ke Bizantium untuk menyingkap makna mimpinya. Mereka mengikutinya dengan setia.

Ketika memasuki kota itu, ia melihat seorang gadis cantik berdiri di balkon. Rambut gadis itu hitam sepekat malam, matanya laksana dua purnama dengan alis mata tebal melengkung bagaikan bulan sabit kembar, parasnya memikat para pecinta, bibirnya merah delima tampak basah dan lembut. Melihat gadis itu, hati ia terbakar birahi. Lekat-lekat ia menatapnya, hasratnya membara meruapi rongga dadanya. Karena cintanya kepada gadis itu, agama dan iman tersingkir dari hatinya. Kecantikan gadis itu benar-benar menjadi pemuas nafsu iblis.

Ia berdiri di depan pintu gadis kafir itu dengan mulut terbuka seraya menatap lekat-lekat ke arah balkon, berharap dapat melihatnya lagi. Pikirannya terkoyak. Puasa yang dilakoni bertahun-tahun dan menguruskan badannya tak dapat membandingkan derita yang dialami kini, begitu pikirnya. Ia kerahkan segenap pengetahuan dan akalnya untuk memahami keadaan ini, namun semua pengetahuan telah sirna meninggalkan dirinya.

Dengan rasa takut segan, murid-muridnya memohon kepadanya untuk pergi bertaubat dan berdoa. Ia menjawab bahwa sekira ia harus bertaubat, ia akan bertaubat dari kebodohan telah menyisihkan dunia dan kesenangan hanya karena agama. Jika diharuskan berdoa, ia akan memohon kepada gadis itu daripada kepada Allah.

Ketika diperingatkan akan adzab Allah dan neraka, ia bilang bahwa perpisahan dengan gadis yang dicintainya dan api cinta dalam hatinya dapat memadamkan tujuh neraka. Mereka berusaha keras membujuk ia. Namun, melihat upaya mereka sia-sia, mereka pun meninggalkannya.

Syaikh itu diam sebulan suntuk di depan pintu pelacur kafir itu. Debu menjadi kasurnya dan anak tangga sebagai bantalnya. Ia tidur di jalanan bersama anjing-anjing kudisan.

Akhirnya, si cantik kafir itu membukakan pintu dan berkata: “Hai orang tua yang mengaku syaikh muslim, kau telah dimabuk kemusyrikan yang membuatmu melakukan kebodohan ini di jalan kafir.”

Ia berkata: “Akan kuserahkan bukan hanya agamaku, melainkan juga jiwaku asal aku dapat menyentuh bibirmu.”

“Sungguh memalukan, kau orang tua budak nafsu. Betapa beraninya kau menciumku sementara kau sudah nyaris masuk liang kubur. Pergilah! Tak sudi aku menyentuhmu.”

Tanpa memperdulikan caci maki gadis itu, ia tetap berdiam di depan pintu. Lalu, gadis itu turun lagi dan berkata kepadanya: “Jika kau sungguh-sungguh mencintaiku, kau harus keluar dari Islam, membakar al-Quran, menyembah berhala dan minum arak.”

Ia berkata: “Aku tak dapat sepenuhnya meninggalkan Islam dan membakar al-Quran, tetapi aku bersedia minum arak demi kecantikanmu.”

“Kalau begitu, mari minum bersamaku, pasti kau akan mau melakukan permintaanku yang lainnya.”

Ketika gadis itu menuangkan arak, hati dan pikirannya menyala-nyala. Ia mencoba mengingat al-Quran yang pernah dihafalnya, kitab-kitab yang pernah dibaca, namun tak ada sedikit pun yang diingatnhya . Dalam keadaan mabuk ia berusaha menyentuh gadis itu. Namun, gadis itu menampiknya: “Tidak, kecuali jika kau menjadi orang kafir sepertiku dan membakar kitab sucimu.”

Ia turuti permintaan pelacur itu. Dilemparkannya al-Quran dan jubah sufinya ke dalam api, lalu ia menyembah berhala. Sekali lagi ia berupaya menyentuh gadis itu. Namun, sekali lagi gadis itu menolaknnya: “Sungguh kau tua bangka budak nafsu yang tak tahu diri. Kau sama sekali tak punya harta, bukan pula orang yang tenar. Bagaimana mungkin gadis sepertiku mau melayani pengenis jorok sepertimu? Aku butuh , emas, perak dan sutera. Karena kau tak punya apa-apa enyah saja kau dari hadapanku!”

Waktu terus berlalu, ia masih saja berdiri di depan pintu rumah gadis itu. Akhirnya, suatu hari, gadis itu menyerahkan dirinya sambil berkata: “Bayarlah aku, hai orang tua yang malang, dengan menjadi penggembala babi-babiku selama satu tahun.” Tanpa daya, ia pun menjadi penggembala babi.

Wanita Kafir yang Mereguk Manisnya Iman di Akhir Hayatnya

Berita sedih mengenai syaikh yang tidak menghormati Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pun tersebar luas. Murid-muridnya yang meninggalkan dirinya telah tiba di Baghdad. Mereka berusaha menemui Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Usai menceritakan keadaan guru mereka, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Jika seseorang tidak tunduk dan menjadi seekor kambing bagi seorang penggembala, ia akan menjadi penggembala sekumpulan babi. Ketahuilah, setiap orang memiliki seribu babi, yakni seribu berhala di hatinya, yang hanya dapat diusir dengan ketundukan dan pertaubatan.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani juga memarahi mereka karena meninggalkan guru mereka. Kemudian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berdoa bagi orang tua yang sesat itu dan meminta para muridnya untuk kembali ke Bizantium dan memberitahu guru mereka bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memintanya untuk kembali.

Murid-muridnya langsung pergi ke Bizantium. Sepanjang jalan mereka selalu berdoa bagi guru mereka. Mereka berpuasa dan berdoa memohon kepada Allah untuk memberikan pahala mereka untuk guru mereka. Mereka bershalawat kepada Rasulullah Saw. dan meminta syafaatnya.

Anak panah doa itu melesat mencapai sasaran. Ketika bertemu dengan orang tua itu, mereka melihatnya bercahaya di tengah kumpulan babi. Dan ketika diberitahukan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memintanya menghadap, segera ia campakkan pakaian kekafiran. Air mata penyesalan mengalir deras, dan ia angkat tangan ke langit untuk bersyukur. Seketika itu juga semua yang telah dilupakannya, al-Quran dan rahasia Ilahi, kembali kepadanya. Kini ia terbebas dari kehinaan dan kebodohan, setelah itu ia mandi berwudhu dan berangkat ke Baghdad.

Ketika peristiwa itu berlangsung, gadis kafir itu bermimpi melihat cahaya turun kepadanya dan mendengar suara berkata: “Ikutilah syaikhmu. Anut agamanya, jadilah debu di kakinya. Kau yang pernah kotor, jadilah sesuci dia. Kau yang telah menariknya ke jalanmu, kini masuklah ke jalannya.”

Ketika bangkit dari tidur, ia rasakan perubahan pada dirinya, ia berlari menyusul syaikh dan murid-muridnya. Tanpa makan dan minum, melewati lembah dan pegunungan. Akhirnya, di tengah-tengah padang sahara , ia jatuh ke tanah, ia berdoa: “Wahai Dzat yang telah menciptakan aku, ampuni aku, jangan hukum aku. Aku telah menantang agama dan jalanMu. Namun kulakukan itu karena kebodohanku, sebagaimana syaikhku melakukannya karena kesombongan. Kau telah mengampuninya. Kini ampunilah aku. Aku tunduk dan menerima agama yang benar.”

Allah memungkinkan syaikh , yang memang belum terlalu jauh, mendengar ucapannya sehingga ia dan murid-muridnya segera kembali dan mendapatinya tengah berbaring. Wanita itu berkata: “Kau telah membuatku malu. Ajari aku Islam agar aku dapat bertemu dengan Tuhanku melalui agama ini.”

Ketika syaikh menjadi saksi atas keimanannya dan para muridnya menangis haru, wanita itu hembuskan nafas terakhirnya. Wanita itu, yang tak lebih dari setetes air di samudera khayal, telah berpulang ke samudera sejati. Syaikh itu pun datang ke Baghdad lalu menundukkan lehernya dengan penuh hormat di bawah kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Pengaruh Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Seiring dengan semakin meluasnya pengaruh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani ke seluruh dunia, banyak murid beliau meraih kedudukan penting, dan banyak penguasa menjadi muridnya. Ia menugaskan sebagian muridnya untuk menjadi wakilnya sesuai dengan kemampuan, kualitas batin dan tingkatan ruhaninya masing-masing. Sebagian mereka diangkat sebagai guru ruhani dan sebagian lainnya menjadi hakim. Bahkan, tidak sedikit yang diangkat sebagai gubernur dan raja.

Dikisahkan bahwa ada seorang fakir yang telah mengabdi sebagai pembantu di rumah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani selama empat puluh tahun. Selama itu, ia telah menyaksikan beberapa murid yang jauh lebih muda darinya dan belum lama mengabdi, telah ditunjuk Syaikh Abdul Qadir al-Jailani untuk menempati jabatan penting. Suatu hari ia menghadap Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan mengajukan permohonan. Ia telah mengabdi kepada syaikh selama bertahun-tahun dan kini usianya semakin tua. Mengapa ia belum juga ditunjuk untuk menempati pos penting seperti murid yang lain.

Belum lagi ia tuntas menyampaikan maksudnya, satu utusan dari India datang. Mereka ingin Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menunjuk seorang maharaja bagi kerajaan mereka. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menatap pembantunya itu dan berkata: “Apakah engkau menyukai jabatan ini? Apakah engkau memenuhi syarat?” Pelayan itu mengangguk kegirangan.

Ketika para utusan itu keluar rumah, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata kepada pembantunya: “Aku akan mengangkatmu sebagai raja di sana dengan syarat kau harus berjanji untuk memberikan kepadaku separuh dari keuntungan dan kekayaan yang kau peroleh selama berkuasa.” Tentu saja pelayan itu menyanggupinya.

Orang tua itu bekerja di rumah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sebagai juru masak. Hari itu, ia harus mengaduk hidangan yang akan disajikan. Setelah berbicara dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, ia kembali ke dapur untuk mengaduk makanan itu di sebuah kuali raksasa dengan sendok kayu. Di tengah pekerjaan itu ia dipanggil untuk pergi bersama para utusan itu ke India sebagai raja mereka.

Di negeri itu, ia dinobatkan sebagai raja. Ia dapatkan kekayaan berlimpah, ia bangun banyak istana untuk dirinya sendiri, ia menikah dan punya seorang anak laki-laki. Ia sepenuhnya telah melupakan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan janji yang diucapkannya.

Pada suatu hari, ia menerima pesan bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani akan datang mengunjunginya. Ia bersiap-siap menyambut kedatangan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Setelah upacara, prosesi dan pesta yang megah, mereka berbincang berdua. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan kesepakatan mereka, yaitu bahwa ia harus memberikan separuh dari semua keuntungan yang dikumpulkannya selama berkuasa. Maharaja itu jengkel ketika diingatkan akan janjinya. Kendati demikian, ia berjanji esok lusa ia akan menyerahkan separuh dari semua kekayaannya kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Keserakahan yang bertambah seiring bertambahnya kekayaan tak membiarkannya membuat daftar kekayaan dengan jujur. Tepat pada hari yang direncanakan, ia membawa daftar kekayaanya itu yang menyerahkan kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Meski daftar itu mencantumkan banyak istana dan kekayaan, semua itu hanyalah sebagian kecil dari kekayaan yang sesungguhnya.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tampak puas dengan bagian yang diperolehnya. Lalu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Kudengar kau juga memiliki seorang anak laki-laki.”

“Iya, sayangnya cuma seorang. Sekiranya ada dua, tentu akan kuberikan salah seorangnya kepadamu.”

“Tidak apa-apa, bawalah anak itu.” Tukas Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. “Kita tetap dapat membaginya.”

Anak itu dibawa di hadapan mereka. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menghunus pedangnya yang tajam tepat di atas bagian tengah kepala anak itu. “Kau akan mendapatkan separuhnya dan separuhnya lagi menjadi bagianku!” kata Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Sang ayah yang ketakutan, menghunus belatinya dan kedua tangannya ditusukkan ke dada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Ia lakukan itu dengan mata terpejam. Ketika membuka matanya, ternyata ia sedang mengaduk makanan di kuali besar dengan sendok kayu. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menatapnya dan berkata: “Seperti kau lihat sendiri, kau belum siap menjadi wakilku. Kau belum memberikan segalanya, termasuk dirimu, kepadaku.”

Sepenuh Hidup Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Diperuntukkan kepada Allah dan RasulNya

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani telah menyerahkan dirinya kepada Allah. Malam beliau lalui dengan sedikit atau bahkan tak tidur sama sekali untuk Tahajjud dan tafakur. Sebagai pengikut setia Rasulullah Saw., beliau gunakan waktu siangnya untuk mengabdikan diri kepada umat manusia. Tiga kali dalam seminggu beliau berceramah di hadapan ribuan orang.

Setiap pagi dan sore beliau mengajar tafsir, hadits, tauhid, fiqih dan tasawuf. Usai shalat Dzuhur, beliau mengisi waktu dengan memberi nasehat kepada umat, baik pengemis maupun raja, yang datang dari belahan dunia. Sebelum Maghrib baik ketika hujan maupun cerah, beliau telusuri jalan-jalan untuk membagikan roti kepada kaum fakir.

Karena berpuasa nyaris sepanjang tahun, beliau hanya makan sekali dalam sehari setelah shalat Maghrib dan tak pernah sendirian. Para pelayan beliau berdiri di depan pintu seraya bertanya kepada setiap orang yang lewat apakah mereka lapar dan meminta mereka untuk makan bersama Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Kewafatan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani wafat pada hari Sabtu tanggal 8 Rabiu’ts Tsani tahun 562 H/1166 M. Makam beliau yang dirahmati, yang terletak di Madrasah Bab ad-Darajah di Baghdad telah menjadi tempat ziarah penting bagi kaum Muslimin, dan khususnya kaum sufi.

Ketika beliau sakit, putra beliau, Abdul Aziz melihatnya meringis menahan sakit yang luar biasa. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bergulingan di atas tempat tidur. “Jangan cemaskan aku.” Kata beliau kepada putranya. “Aku telah tengah berubah terus menerus dalam pengetahuan Allah.”

Ketika putra beliau, Abdul jabbar, menanyakan bagian mana tubuhnya yang teras sakit, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjawab: “Semuanya, kecuali hatiku. Tak ada sakit sedikitpun pada bagian ini karena ia bersama Allah.”

Putra beliau yang lain, Abdul Wahab, berkata kepada beliau: “Berilah aku nasehat terakhir yang dapat kuamalkan setelah ayah wafat.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjawab: “Takutlah hanya kepada Allah. Berharaplah kepada Allah, dan sampaikan segala kebutuhanmu kepadaNya. Jangan berharap atau menghendaki sesuatupun dari selain Allah. Bertawakallah hanya kepada Allah, bersatulah denganNya, bersatulah denganNya.”

Sebelum wafat, beliau memandangi sekeliling dan berkata kepada orang-orang yang hadir: “Mereka yang tak pernah kalian lihat telah datang kepadaku. Berikan ruang dan bersikap santunlah kepada mereka. Aku adalah isi tanpa kulit. Kalian melihatku bersama kalian, padahal aku bersama yang lain. Tinggalkan aku sendiri.”

Kemudian beliau berkata: “Wahai malaikat maut, aku tak takut kepadamu atau apapun selain Allah yang telah menemaniku dan bersikap baik kepadaku.”

Pada detik-detik terakhir, beliau angkat tangannya dan berkata: “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Segala puji bagi Allah, Yang Maha Suci, Maha Hidup. Segala puji bagiNya, Yang Maha Kuasa, yang mengalahkan hambaNya dengan kematian.”

Setelah menyeru: “Allah, Allah, Allah,” ruh beliau pun pergi meninggalkan jasad beliau.
Semoga Allah meridhai ruh beliau dan ruh beliau memberi barakah kepada kita semua. Aamiin.